100th INONESIA BANGKIT


Sunday, June 29, 2008
Perubahan Blog Komunitas Historia Indonesia



Silahkan kunjungi Bolg terbaru kami:

http://komunitashistoria.blogspot.com/

Terima kasih ya...





Monday, June 16, 2008
FREE, Jakarta Heritage Trail, Mau???

SELAMATKAN KOTA TUA JAKARTA!”
Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Jakarta ke-481.


LATAR BELAKANG

  1. Bagian sejarah tertua dari Jakarta dikenal dengan sebutan Kota (Sansekerta) yang berarti “tempat yang dibentengi,” merupakan bandar termegah di Asia Tenggara, yakni Sunda Kalapa yang sejak abad ke-14 dikenal sebagai pintu gerbang menuju Kerajaan Pajajaran. Setelah pasukan Fatahillah menyerang dan merebut Sunda Kalapa (1527) dari tangan Pajajaran, Sunda Kalapa diganti namanya menjadi “Jayakarta” yang berarti “kemenangan sempurna.” Pangeran Jayakarta terusir hingga ke Jatinegara setelah Kota dihancurkan oleh tentara VOC pimpinan Jan Pieterszoon Coen dan Batavia mulai bangkit (1619) sebagai nama baru dari kota itu. Dengan nama ini, kota Batavia dikenal selama hampir tiga setengah abad dan berakhir ketika Jepang (1942) menduduki Hindia Belanda dan nama Jakarta diabadikan Jepang sampai sekarang.

  1. Di Jakarta, terdapat berbagai macam kebudayaan dengan latar belakang sejarah yang berbeda. Hal itu bisa dilihat dari beragamnya arsitektur bangunan, bahasa, nama jalan dan kampung, peristiwa sejarah, kuliner, atraksi budaya serta bentuk-bentuk kebudayaan lain yang unik. Inilah yang dikenal sebagai special plavours of Jakarta itu. Namun demikian, kebanyakan warga Jakarta tidak mengetahuinya. Banyak warga Jakarta yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar mereka. “Orang Jakarta tidak berakar, karena tidak mau mengenal sejarah dan budayanya sendiri.” Akibatnya terjadi penurunan kuantitas dan kualitas pusaka sejarah dan budaya (heritage, berarti pusaka) yang ditandai dengan hancurnya sebagain besar bangunan bersejarah di Jakarta. Hal ini disebabkan karena tidak adanya penghargaan sebagian besar masyarakat Jakarta (juga Indonesia), terhadap sejarah dan budayanya. Hal ini lah yang disebut sebagai tidak adanya kesadaran sejarah dan budaya.

  1. Memperhatikan kondisi demikian mengkhawatirkan, yang dipandang strategis, telah menggugah Komunitas (Peduli Sejarah dan Budaya) Historia – Indonesia, untuk menggelar Jakarta Heritage Trail (penjelajahan, belajar dan bermain) guna memperkenalkan peninggalan sejarah dan budaya Jakarta kepada masyarakat, terutama generasi muda dengan cara yang “beda,” yakni melalui kegiatan yang rekreatif, edukatif dan entertainment.

TUJUAN

  1. Melalui kegiatan yang mengedepankan konsep, jalan-jalan, belajar dan bersih-bersih ini, diharapkan Kota Tua Jakarta bisa difahami sebagai kota milik bersama yang harus dijaga dan dilestarikan demi generasi mendatang,

  2. Tumbuhnya kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, secara menyeluruh, terutama bagi kalangan generasi muda Indonesia. (kesadaran meliputi aspek koginitif, afektif dan psikomotorik)


KEGIATAN

  1. Street Hunting (pendokumentasian) gedung-gedung tua

  2. Eksplorasi gedung-gedung tua

  3. Aksi Sosial di Kota Tua [memungut sampah]

  4. Mengunjungi pameran, bazzar dan pertunjukan kesenian Batavia Art Festival 2008


NARA SUMBER

Asep Kambali, KHI. (pecinta sejarah & budaya)


WAKTU & TEMPAT KEGIATAN

Hari/ Tanggal : Minggu, 22 Juni 2008; Pukul : 07.00-10.00 wib

Tempat Kumpul : Museum Bank Mandiri, Jl. Lapangan Stasiun No.1 Jakarta Barat 11110, Depan Halte Bus Transjakarta/ Stasiun KA Kota.


SASARAN PESERTA

Acara terbuka untuk UMUM, dan TIDAK dipungut biaya, GRATIS.Perkiraan peserta: 500-1000 orang, bisa lebih.


RENCANA ACARA

[07.00] Kumpul di Banking Hall Museum Bank Mandiri (MBM)

Acara : - Orientasi dan Pembagian Kelompok - (Free Masuk MBM)

[07.15] Memulai perjalanan menuju ke pintu luar/ di depan gedung MBM

Acara : - Ada pemutaran film MBM & Batavia 1941di Banking Hall

- Mendengarkan penjelasan sejarah Gedung MBM

- Memungut sampah di tempat parkir MBM dan Jl. Lapangan Stasiun

- Ada tour di MBM*

[07.30] Menuju Museum Bank Indonesia

Acara : - Peserta konvoi bersama

- Sambil memunguti sampah disekitar jalan menuju MBI, di tempat parkir/ halaman

depan MBI.

[07.40] Mendengarkan Penjelasan sejarah Gedung MBI

[07.50] Tour Museum Bank Indonesia

Acara : - Peserta akan dibagi kelompok, dan akan masuk MBI berbarengan tetapi tidak berhenti

satu sama lain pada titik tertentu sehingga tidak ada penumpukan peserta.

[08.00] Menelusuri Jl. Pintu Besar Utara menuju gedung Cipta Niaga

Acara : - Sambil jalan perlahan, akan diterangkan gedung Escompto Bank, Kerta

Niaga, dan Museum Wayang.
- Memunguti sampah di sepanjang Jl. Pintu Besar Utara

[08.30] Tour di gedung Cipta Niaga

Acara : - Peserta secara bersamaan akan masuk gedung cipta niaga dan keluar

pada pintu yang berbeda.

- Peserta memunguti sampah (sisa manusia) yang ada di gedung Cipta Niaga.
- Tidak diperkenankan mengambil/memindahkan/membawa sisa reruntuhan (ruins)

yang ada di (semua) gedung ini. (Pasal 26, UU BCB No. 5 Tahun 1992).

[09.00] Tour di Museum Sejarah Jakarta/ Fatahillah

Acara : - Acara akan berakhir di UPT Kota Tua. Untuk kemudian menghadiri pembukaan Batavia
Art Festival 2008 di Taman Fatahillah

[10.00] Acara Jakarta Heritage Trail selesai di UPT Kota Tua Jakarta.


CATATAN & TIPS

  • Acara 100% jalan kaki/ walking tour.

  • Disediakan plastik sampah dari Komunitas Jakarta Green Monster

  • Disediakan air mineral dari AQUA

  • Dipersilahkan membawa makanan dan obat-obatan pribadi secukupnya

  • Disarankan membawa uang untuk membayar tiket Museum Sejarah Jakarta/ Fatahillah sebesar Rp.2000/ orang.

  • Membawa kamera/ handuk kecil/topi lebar/ sarung tangan/ sun glass/ payung, dll.

  • Memakai pakaian casual, sepatu kets dan menggunakan sunblock.


INFO LENGKAP

Kegiatan ini adalah sebagai seruan dalam rangka memperingati HUT Kota Jakarta ke-481 tahun. Bagi pihak-pihak yang ingin berparitisipasi / menyumbangkan bantuan dalam bentuk apa pun pada acara ini silahkan menghubungi hotline center kami di:

Telp : 021.7044.7220

Mobile : 0818.0807.3636.

Email : komunitashistoria@yahoo.com

Millist : http://groups.yahoo.com/group/komunitashistoria

Web : http://komunitashistoria.blogspot.com;


DIDUKUNG OLEH

PT. Aqua Golden Missisippi; Jakarta Green Monster; Komunitas Historia Indonesia; Museum Bank Indonesia;* Museum Bank Mandiri; Paguyuban Kota Tua Jakarta;* UPT Kota Tua Jakarta.









Monday, May 05, 2008
Refleksi ...

100th INDONESIA BANGKIT?


Tidak salah jika tahun ini dikatakan sebagai "the lowest point" dari kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Ini dalam kacamata pribadi. Lihat saja, berbagai hal (dengan tidak mengenyampingkan hal-hal lain yang positif /maju) dari hampir semua bidang di negara kita banyak mengalami kemunduran. Dulu kita pernah swasembada pangan tahun '84/'85, tapi kini kita harus impor beras. Kita juga impor minyak ikan dari Jepang, begitu juga kencur dan kunyit dari India. Dulu kita pernah berjaya dibidang pendidikan dengan "mengekspor" guru ke Malaysia, kini negeri jiran itu jauh merasa lebih maju ketimbang kita, bahkan sekolahnya lebih ternama ketimbang sekolah-sekolah di negara kita, Indonesia. Titik terendah yang dimaksud disini adalah titik dimana sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak mengenal siapa dirinya, siapa Indonesia itu? Seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Untuk mengenali diri dan siapa Indonesia itu kita bisa mengenalnya melalui sejarah. Karena hanya dengan memalui sejarah jati diri, identitas dan rasa nasionalisme dapat dibangun kembali. Ciri lain dari masyarakat kita adalah memudarnya kepekaan sosial dan "keutamaan budi" (Boedi Oetomo) yang seharusnya menjadi ciri dari bangsa Indonesia. (Terlepas dari adanya kontroversi sejarah mengani hal tersebut. So, jangan dibahas di sini!).

Beberapa hal yang menjadi pemicu semangat justru malah dipendam dalam-dalam dan tidak munculkan ke permukaan. Seorang anak penjual rokok kaki lima di Bekasi misalnya, menjadi juara catur dunia tahun 2007 di Yunani, beberapa siswa terbaik kita juga menjadi juara olimpiade fisika, olah raga kita juga lebih hebat dengan hadirnya beberapa atlet muda berbakat yang menjuarai beberaapa cabang olahraga baik di tingkat Asia maupun Dunia. Seharunya semua itu menjadi insfirasi dan motivasi untuk bisa maju lebih baik. Namun, lagi-lagi ini hanya menjadi penghias dari kehidupan bangsa kita saja.

Kebangkitan Nasional era kini adalah bukan dengan berperang atau mengangkat bambu runcing, tetapi bangkit bersama-sama untuk mengisi kemerdekaan dengan berlandaskan pada kesadaran sejarah. Kita harus ingat pada akar kita. Atau kita harus ingat pada sumbernya! Dulu kita bersatu untuk merdeka, itulah maknanya! Untuk apa kita sekarang? Karena itu lah, sejarah sebagai sarana utama dalam menumbuhkan jati diri dan identitas bangsa menjadi penting artinya. Kesadaran Sejarah dapat diperoleh (salah satunya secara dominan) adalah melalui pendidikan sejarah di sekolah. Namun, ternyata mata pelajaran sejarah malah dikeluarkan dari syarat kelulusan sekolah mengenah atas (SMA) dalam Ujian Akhir Nasional (UAN). Artinya mata pelajaran sejarah tidak di–UAN–kan lagi. Sebelumnya sejarah dikurangi jam pelajarannya, disatukan dengan mata pelajaran lain menjadi PKN-S (Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah), kemudian tahun ini dihilangkan dari UAN. Apakah tahun depan akan dihilangkan dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah? Atau bahkan akan sama sekali dihapuskan dari kehidupan kita?

Dalam memandang kasus ini, banyak sekali interpretasi
. Sejarah tidak penting lah, atau bisa jadi tidak dibutuhkan lagi. Menjadi pelajaran formalitas saja dan tidak jauh beda sebagai mata pelajaran pelengkap. Pelajaran hafalan yang membosankan dan tidak gaul. Yang paling menakutkan adalah "masuk jurusan sejarah berarti bunuh diri" karena katanya masa depan suram. Jas Merah sering diplesetkan menjadi "jangan sekali-kali masuk sejarah." Sedih.... deh. Ironis! Mungkin karena trend dalam mengambil kuliah dan pekerjaan saat ini adalah IT/ Informatika/komunikasi yang menduduki nomor wahid incaran anak muda, kedua ekonomi, dll. Sejarah sama sekali tidak memiliki tempat di hati anak muda, apalagi dalam hal lapangan pekerjaan tidak ada perusahaan yang menempatakan lulusan sejarah diperusahaannya. Bagi yang kuliah di pendidikan sejarah dia harus bangga dengan menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa," atau lebih memilih "murtad" dari bidangnya dengan bekerja sebagai wartawan, karyawan swasta, politikus, selebritis, dan musisi. Itupun hanya segelintir orang yang berhasil. Karena tidak banyak perusahaan yang "rela" menerimanya. Bagi yang kuliah di sejarah murni, juga demikian. Ada pepatah: "tidak ada sejarawan yang jadi konglomerat!" :"(

Prioritas pembangunan lebih banyak ke arah fisik. Bangun mall, bangun gedung bertingkat untuk apartemen, rumah susun,
bangun jalan raya, pengelolaan sampah, penanganan bencana banjir, dll., yang paling besar adalah bayar hutang luar negeri, dll. Kita sibuk membangun badannya, tapi kita melupakan pembangunan jiwa-nya. Maka kita mendapatkan mayoritas anak muda yang rapuh, mudah terombang ambing dan cenderung berjalan searah dalam memandang kehidupan. Akibatnya mudah dimanfaatkan oleh siapapun yang memiliki kepentingan, diadu domba dan diperdaya untuk kepentingan orang/kelompok/bangsa/negara tertentu.

Kita semestinya introspeksi, karena untuk kuliah S3 Sastra Indonesia saja kita hanya bisa mengambilnya di Belanda. Mungkin juga nanti, ketika kita akan belajar gamelan/ karawitan/ agklung/ wayang/ bahasa daerah/ arsitektur rumah tradisonal, dll. kita harus menempuhnya ke Eropa. Karena lebih banyak anak-anak muda/ orang tua di Eropa yang belajar seni Sunda dan Jawa. Bahkan, banyak diantara mereka yang menguasai tarian daerah, bahasa daerah dan konservasi tradisi serta kearifan lokal kita. Tetapi sungguh ironis karena tidak banyak kaum muda Indonesia yang tertarik mempelajarinya. Mereka lebih suka Play Station, IT dan budaya modern lainnya. Salah satu contoh kongkrit adalah berdasarkan laporan Balitbang Depbudpar, dari 700 bahasa daerah yang kita punya, sisanya tinggal 300-an bahasa. Hal ini mungkin saja terjadi karena banyak kaum muda kita yang lebih memilih bahasa Inggris, Belanda, Jepang, dll. Mereka lupa asalnya mereka. Mereka lupakan tradisinya.

Berdasarkan permasalahan di atas, seharunya kita mencari alternatif solusi. Permasalahan-permasalahan sepertinya membuat kita ciut nyali. Padahal jadikan itu sebagai fakta saja. Atau jadikan sebagai tantangan untuk bangkit. Bukan sebagai "excuse."

Pertama yang paling penting adalah bahwa harus ada Reinterpretasi Konteks terhadap kehidupan bermasyarakat kita. Bahwa kebangkitan nasional era kini berbeda dengan era dimana Budi Oetomo berdiri. Kalau dulu diimplementasikan dengan berjuang mengangkat senjata dan bambu runcing, kalau kini seharunsya diisi dengan pembangunan jiwa dan berjuang melawan kebodohan.

Budaya luar/ modernisasi merupakan kenyataan yang harus dihadapi, dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun jujur saja, modernisasi membuat kita lupa diri, membuat kita pamrih, dan memandang materi adalah segala-galanyanya didunia ini. Kita tidak memiliki rasa IKHLAS terhadap diri kita dan orang lain. (Ikhlas diibaratkan -maaf- seperti kita buang air). Akibatnya, kita cenderung berjalan searah, yaitu dengan melupakan tradisi dan kearifan lokal kita. Kita selalu mngedepankan/ mengagungkan masa kini, dan melupakan/ menyepelekan masa lalu. Kita lebih suka mendalami era globalisasi dengan segala dampaknya ketimbang mempelajari dan memahami kondisi lokal kita yang padahal jauh lebih bermanfaat dalam mengenal keberagaman dari bangsa ini sebagai potensi pembangunan di era go global ini. Kita lebih suka menjual kekayaan kita daripada memanfaatkannya. Itulah yang kita sebut sebagai tidak adanya kemapuan Integrasi Kontekstual. Yaitu, tidak adanya pemahaman, penghargaan dan pengertian yang menyeluruh terhadap masa lalu dan masa kini, terhdapa tradisi dan modern, terhadap lokal dan global. Kita harus bisa teknologi modern, tetapi juga harus mampu bermain gamelan dan membuat rumah tradsional kita. Kita juga harus pintar berbahasa asing agar kita tidak ketinggalan dan dibodohi orang, tapi kita juga harus bisa bahasa daerah dan tradisi lokal kita. Kita maniak R&B, tanggo dance, night-club tapi kita juga bisa, sayang dan peduli terhadap tarian tradisional kita. Kita harus menciptakan kreasi yang mendunia tetapi jangan lupa Indonesia!

100 tahun Kebangkitan Nasional kita maknai sebagai ajang introspeksi dan evaluasi diri. Siapa kita, dan siapakah Indonesia? Untuk itu saatnya kita proyeksikan 100 tahun ke depan kehidupan berbangsa dan bernegara kita bersama-sama, antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh kompeonen bangsa.

Kita harus ikhlas demi Merah – Putih, Indonesia Jaya! MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA!

Salam Lestari,

Asep Kambali, KHI
Pecinta Sejarah dan Budaya dari Komunitas Historia Indonesia
Millist: komunitashistoria@yahoogroups.com
HP: 0818.0807.3636




Wednesday, April 09, 2008
Area Magazine edisi Februari 2008

JAKARTA DULU & KINI

Oleh: Asep Kambali

Jejak masa lampau Jakarta sulit dilacak keberadaannya. Melalui beberapa situs sejarah yang lolos dari kebiadaban masa kini lah masa lampau itu dapat terungkap. Salah satu ciri khas yang umum terdapat disetiap sejarah suatu kota adalah terdapatnya pemukiman Tionghoa atau biasa disebut Pecinan (China Town) di kota itu. Kawasan Pecinan, dalam sejarahnya selalu menjadi penopang sekaligus jantung perekonomian. Tak heran, jika Pecinan terdapat hampir di berbagai kota besar di Dunia, termasuk Jakarta. Kini, etnis Tionghoa telah menjadi ciri sekaligus jiwa yang mewarnai sejarah kebudayaan dari kota ini.


Artikel 1___________________________________________________________

PECINAN JAKARTA,
Pusat Ekonomi dan Akulturasi Budaya?

Oleh: Asep Kambali

Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (kini Jakarta) tahun 1619, orang-orang Cina sudah tinggal di sebelah Timur muara Ciliwung tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan. Namun, ketika Belanda membangun loji di tempat itu mereka pun diusir. Baru, setelah terjadinya Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok yang tidak jauh dari ‘Stadhuis’ (kini Museum Fatahillah) dengan maksud agar mudah diawasi.

Di Pecinan Glodok dan sekitarnya tempo doeloe konglomerat Khouw pernah berjaya; ribuan orang China juga pernah dibantai; perayaan Imlek; semarak Cap Go Meh; nostalgia Peh Cun, panasnya perjudian dan madat, serta aktivitas perdagangan dan perekonomian yang terus bergelora. Jejak-jejak itu, kendati terus memudar, masih tetap terasa kental. Walau sempat di kekang puluhan tahun, kini etnis yang mendarah menjadi daging dari suku Betawi ini tengah merayakan Imlek dan Cap Go Meh. Aksara China, bahasa Mandarin, berbagai pertunjukan tradisi lama Tionghoa pun semakin semarak.

Sejak dulu, kawasan Glodok memiliki potensi dan letak yang strategis, maka tak aneh jika mendorong banyak orang mengadu nasib. Tak hanya orang China, orang Eropa, dan kaum pribumi pun banyak tumpah ruah di Glodok. Saat ini, orang Betawi (dari kata Batavia) yang belakangan muncul pada abad ke-19 sebagai suku tersendiri merupakan akulturasi dari banyak budaya itu.

Glodok kini, bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik. Wilayah perekonomian yang tak henti berdenyut ini bukan pula sekedar kawasan yang identik sebagai Pecinan saja. Karena dalam sejarah kontemporer Jakarta, glodok memiliki banyak arti: perjuangan kaum imigran, kejayaan, keterpurukan dan perlawanan terhadap nasib dan penindasan. Ini berlaku bagi siapa saja yang tinggal di Glodok dan sekitarnya.


Artikel 2___________________________________________________________

JAKARTA’S CHINA TOWN
Oleh: Asep Kambali


Sesungguhnya, kawasan Pecinan di Jakarta tidak saja identik dengan Asemka, Glodok, Pancoran dan Petak Sembilan. Karena dalam sejarah Jakarta, kawasan lain sebagai Pecinan banyak bermuculan setelah pusat kota Batavia dipindahkan ke Weltevreden (kini Monas dan Lapangan Banteng) diawal abad ke-19. Kawasan –kawasan lain sebagai Pecinan itu misalnya terdapat di Passer Baroe, Meester Cornelis Senen (Jatinegara), Pasar Senen; Pasar Tanah Abang, dsb. Di setiap kawasan tersebut hingga saat ini masih dapat kita temui jejak sejarah Tionghoa yang unik dan menarik untuk ditelusuri.

  • Pancoran dan Glodok

Nama ‘pancoran’ berasal dari pancuran air yang terbuat dari bambu. Dahulu, di Glodok memang terdapat sumber air yang mampu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat Kota Batavia. Air dari Pancoran di alirkan ke taman Fatahillah menggunakan pipa tanah liat. Pipa ini sempat dipotong dan dihancurkan oleh Pemda DKI demi pembuatan Tunel yang menghubungkan Stasiun BeOS dan Museum Bank Mandiri pada tahun 2006 lalu. Di tengah taman Fatahillah kemudian dibuat tempat minum kuda dan masyarakat (1873). Alat itu menyerupai kubah Museum Fatahillah. Sedangkan nama ‘glodok’ berasal dari suara air yang berbunyi ‘grojok-grojok’ kemudian lidahnya kepleset menjadi ‘glodok.’ Versi lain menyebutkan bahwa glodok berasal dari grobak pengangkut air tersebut yang bernama “golodok.”

Sebagai kawasan pecinan, Pancoran –Glodok merupakan kawasan paling padat dan ramai. Beberapa bangunan bergaya Tionghoa masih terdapat di sini. Namun, jumlahnya sangat sedikit karena banyak yang dihancurkan oleh pemiliknya. Antara lain yang masih selamat: Kelenteng Jin de Juan; Gereja Santa Maria de Fatima; dan Kelenteng Toa Sai Bio.

  • Passer Pagi Lama –Asemka

Pasar Pagi Lama terletak di Asemka, tepatnya di belakang Museum Bank Mandiri. Di sini lah pusat grosir terbesar Indonesia yang menjual berbagai jenis barang murah dari kelontong hingga asesoris. Sebagai Pecinan, di sini juga tentunya banyak terdapat rumah bergaya Tionghoa. Ciri umum rumah Tionghoa adalah di bawah toko, di atas sebagai tempat tinggal (ruko, rumah dan toko). Ada juga yang hanya satu lantai saja. Sayang, rumah-rumah itu kini banyak yang didiamkan, dihancurkan pemiliknya, ditiban dengan bangunan baru atau sama sekali dihancurkan.

Para pedagang asongan kereta jalur Kota-Bogor, Kota-Cikampek, dan Kota-Merak biasanya berbelanja di sini. Pedagang asongan bis-bis antar kota juga demikian. Jika Anda tertarik untuk berjualan, tempat ini sangatlah tepat. Bayangkan saja harga 1 buah ballpoint yang dijual di bis/kereta dengan harga Rp. 1000,-/buah, di sini dibeli dengan harga bisa sampai Rp. 250/buah. Tentunya harus membeli dalam jumlah yang banyak.

  • Jl. Perniagaan dan Rumah Keluarga Souw

Di sebelah Selatan Pasar Pagi Lama, terdapat Jl. Perniagaan, jalan ini dahulu disebut Jl. Patekoan. Konon, nama Patekoan berarti 8 buah teko/poci (pat te-koan). Di daerah ini pernah tinggal seorang Kapiten Cina Gan Djie (1663-1675). Istrinya yang berjiwa sosial, setiap hari menyediakan 8 buah teko (poci) berisi air teh. Angka 8 sengaja dipilih sebab angka ini mempunyai konotasi baik atau hoki.’ Dahulu belum banyak orang yang berjualan makanan dan minuman, jadi bagi pejalan kaki yang kelelahan/kehausan dipersilahkan minum air teh yang disediakan. Jl. Patekoan kini dinamankan Jl. Perniagaan yang sama sekali tidak mengandung makna apa-apa, selain bisnis.

Masih dari jalan perniagaan, terdapat rumah tua milik keluarga Souw. Keluarga Tionghoa ini dahulu terkenal sangat kaya-raya. Salah satunya adalah kakak-beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Souw Siauw Tjong selain orang kaya dia berjiwa sosial. Ia mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak boemipoetra di tanah miliknya, membantu orang-orang miskin, menyumbangkan makanan dan bahan bangunan ketika terjadi kebakaran. Maka, Tjong diberikan gelar luitenant titulair (kehormatan) oleh pemerintah Hindia Belanda pada Mei 1877. Namanya juga tercantum sebagai donor pada pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tanggeang 1875 dan Kelenteng Kim Tek Ie (kini Jin de Juan) Batavia tahun 1890. Sedangkan Souw Siauw Keng (1849-1917) diangkat menjadi luitenant der Chineezen di Tanggerang tahun 1884.

Beberapa meter dari rumah besar Keluarga Souw, terdapat bangunan yang kini menjadi sekolah SMAN 19 Jakarta. Di kalangan anak-anak Kota, sekolah ini sangat populer dengan sebutan cap-kau, artinya “sembilan belas”. Gedungnya sangat bersejarah, sebab di tempat inilah pertama kali berdiri sebuah organisasi Tionghoa “modern” di kota Batavia, bahkan di Hindia Belanda. Pada 17 Maret 1900 berdiri perhimpunan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Tahun berikutnya THHK mendirikan sekolah modern pertama yang disebut Tiong Hoa Hak Tong disusul pembukaan cabang-cabang lain di seluruh Hindia Belanda. Berdirinya sekolah-sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa terhadap pemerintah Belanda yang selama itu tidak pernah meberikan pendidikan kepada anak-anak mereka.

Akibat perkembangan yang sangat pesat, pemerintah kolonial Belanda, yang khawatir anak-anak Tionghoa akan “tersedot” semua ke sekolah yang dibentuk THHK itu, serta-merta Belanda mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS), yaitu sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Pada 1965, THHT yang di Jl. Patekoan itu di tutup oleh pemerintah Orde Baru dan bangunannya diambil alih menjadi sekolah pemerintah dengan nama SMAN 19 Jakarta.

  • Kawasan Elit Mangga Dua

Wilayah Mangga Dua berada di luar benteng kota Batavia, merupakan wilayah penempatan bagi pemukiman pribumi kelompok etnis. Posisinya sebelah tenggara Kasteel Batavia. Wilayah ini menjadi lahan pertanian bagi keperluan Kasteel Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, banyak pejabat VOC Belanda dan orang kaya Eropa yang memilih membangun bungalow di daerah ini. Salah satu yang terkenal adalah Pieter Erberveld yang memiliki tanah luas di Mangga Dua.

Di pojok tenggara Kasteel Batavia terdapat tempat hiburan yang disebut dengan Macao Pho, di sini banyak wanita penghibur yang didatangkan dari Macao/ daratan Cina untuk menghibur para pelaut yang datang bersampan melewati Ciliwung yang menghubungkan Jassenberg (jembatan Jassen) dengan pelabuhan. Ada tempat hiburan ada juga tempat ibadah. Maka, di sini juga terdapat Gereja Sion bagi orang-orang Portugis tawanan VOC Belanda yang dimerdekakan karena pindah anutan dari Katholik menjadi Protestan (kaum mardijker).

Di Mangga Dua terdapat banyak peninggalan sejarah, yaitu: Mesjid Mangga Dua yang dibangun awal abad ke-20, di dalamnya terdapat makam keramat; Areal pemakaman orang-orang Tionghoa, termasuk makam Kapitein Cina pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ia adalah sahabat lama dari Jan Pieterzon Coen. Ketika JP. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC dan mulai membangun Kasteel Batavia, ia mengajak Souw Beng Kong yang berada di Banten untuk membawa masyarakat Cina bergabung di Batavia. Kemudian Souw Beng Kong datang ke Batavia dengan membawa 300 orang Cina. Maka, ia diberi pangkat Kapitein, sebuah pangkat tertinggi bagi kelompok etnis yang menjadi abdi VOC. Kelompok masyarakat lain juga diberi pangkat demikian Seperti Kapitein Arab; Kapitein Banda, Kapitein Bali; juga pangkat Mayor dan Liutenant.

  • Kawasan Passer Baroe

Passer Baroe mulai ada sejak tahun 1821. Dinamakan pasar baru karena pada saat itu pasar ini relatif baru dari dua pasar yang telah ada sebelumnya yaitu pasar Senen dan pasar Tanah Abang yang dibangun sejak 1735. Passer Baroe awalnya merupakan perkampungan yang dihuni masyarakat Tionghoa. Kemudian menjadi daerah pertokoan, walaupun keadaannya masih sepi. Memasuki abad ke-20, jalan yang membelah pasar itu akhirnya dipenuhi toko-toko. Itu pula yang mendorong pemerintah Hindia Belanda memperindah Passer Baroe dengan mengucurkan dana yang cukup besar. Maka, dibuatlah trotoar di kiri kanan jalan. Semakin hari Pasar Baru semakin bersinar.

Kala itu barang-barang yang dijual masih berupa kelontong, bukan sepatu atau tekstil seperti sekarang ini. Baru pada tahun 1903, Tio Thek Hong mendirikan toko di pojok kanan jalan perempatan gang Kelinci dan Pasar Baru. Area ini menjual barang-barang anyar dari Eropa dan Amerika. Di toko ini pembeli juga tak harus menawar karena harganya pasti. Berkat Tio Tek Hong pula area ini naik daun.

Pasar baru dikenal sebagai daerah elit karena berada dekat dengan kawasan rijswijk (jalan Veteran) yaitu kawasan khusus dimana orang-orang kaya tinggal. kalau kawasan rijswijk didominasi oleh bangunan perkantoran dan tempat tinggal, maka kawasan ini adalah tempat untuk rekreasi dan belanja mereka. Namun, kini pasar baru pamornya mulai memudar. Hal ini karena menjamurnya pasar-pasar raksasa yang lebih modern seperti hypermart dan mall-mall.

  • Kawasan Meester Cornelis Senen –Jatinegara

Pada masa penjajahan Belanda, Jatinegara merupakan pusat dari kabupaten yang dikenal sebagai Meester Cornelis. Kabupaten Jatinegara saat itu meliputi Bekasi, Cikarang, Matraman dan kebayoran. Nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. Meskipun demikian, nama Jatinegara yang berarti ‘negara sejati’ itu sudah dipopulerkan oleh Pangeran Ahmad Jayakarta saat beliau mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum di wilayah Pulo Gadung, Jakarta Timur. Versi lain mengatakan bahwa nama Jatinegara diadaptasi dari banyaknya pohon jati yang masih ditemukan di kawasan tersebut pada masa pendudukan Jepang, sehingga nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara.

Pada pertengahan abad ke 17, Belanda memberikan ijin pembukaan hutan di sebuah kawasan yang jaraknya kira-kira 15-20 kilometer dari Batavia kepada Cornellis Senen (seorang guru agama Kristen). Cornellis Senen adalah seorang keturunan Portugis yang berasal dari Lontor, Pulau Banda. Dia mampu berkhotbah dalam bahasa Melayu maupun Portugis (Kreol). Cornellis Senen biasa dipanggil Meester yang berarti tuan guru. Konon beliau ditolak oleh panitia ujian saat beliau ingin menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657. Bisa jadi beliau ditolak karena beliau bukan asli keturunan Belanda. Namun demikian, beliau diberi hak untuk membuka hutan dan menebang pohon jati di tepi sungai Ciliwung. Hutan yang dibukanya kini menjadi daerah padat penduduk yang dikenal sebagai Jatinegara. Nama Meester sendiri diabadikan menjadi Pasar Meester. Di pasar ini banyak terdapat peninggalan sejarah berupa rumah-ruamh Tionghoa lama, tentunya hal itu mengindikasikan sebagai Pecinan. Objek sejarah lain yang terdapat di Jatinegara yaitu: Gereja Koinonia yang dibangun akhir abad ke-19; SMPN 14 Jakarta; Stasiun Kereta Api Jatinegara; Gedung Eks. Kodim 0505; Kantor Pos Jatinegara; dll.

  • Passer Senen dan Tanah Abang

Kedua pasar ini didirikan oleh seorang Belanda bernama Justinus Vinck pada tahun 1735 di atas tanah miliknya. Pasar Senen didirikan di Weltevreden (kini Monas dan Lapangan Banteng) sebelah Timur, sedangkan di tempat lain dibangun juga pasar Tanah Abang. Untuk menghubungkan kedua pasar itu maka dibuatlah jalan yang melewati Kampung Lima, Jembatan Prapatan sampai simpang Senen – Kramat. Inilah jalan pertama yang menghubungkan timur dan barat Jakarta.

Di pasar Senen atau Vinckepasser dahulu banyak dijual sayuran. Berbeda dengan sekarang yang banyak menjual pakaian bekas dan bursa kue subuh. Nama pasar Senen sendiri berasal dari nama hari, karena hanya buka tiap hari Senen saja. Berbeda dengan pasar Senen, di pasar Tanah Abang dahulu banyak dijual kambing. Namun, tidak sampai hari ini, karena harus beralih mejadi bursa tekstil terbesar di Indonesia. Hari bukanya juga hanya Sabtu saja. Hal ini bahkan sampai pemerintah menetapakan hari Senen dan Sabtu sebagai hari pasar. Sejak 1751 pasar Tanah Abang buka juga hari Rabu. Kini, kedua pasar itu buka tiap hari karena kebutuhan masyarkat yang terus meningkat.

Keadaan pasar di masa lalu tidak seperti sekarang. Dahulu pasar terbuat dari atap rumbia dan bertiangkan bambu. Pemilik petak pasar umumnya adalah orang-orang Tionghoa. Maka jangan heran hampir di setiap pasar besar yang ada di Batavia kebanyakan pedagangnya adalah orang Tionghoa. Mereka bahkan membuat rumah di atas tokonya atau di sekitar pasar. Orang Tionghoa juga sebagai petani dan pengusaha lain. Maka tak aneh jika mereka banyak mendominasi perdagangan, hingga akhirnya membangkitkan gairah perekonomian kota. Jika ditelusuri, lembaran sejarah perekonomuan bangsa ini tidak terlepas dari peran orang-orang Tionghoa di dalamnya.

Artikel 3___________________________________________________________


SITUS SEJARAH LAINNYA DI JAKARTA
Oleh: Asep Kambali

Kaum Pecinan dalam lembaran sejarah Jakarta sering dilupakan orang. Padahal, diawal berdirinya Batavia, orang Tionghoa sengaja didatangkan secara besar-besaran oleh Belanda, dipekerjakan, dikuras, ditindas, dikekang, ditangkap, diasingkan, dan dibuang ke laut untuk kepentingan penjajahan. Mereka dengan sadis dibantai oleh VOC –Belanda pada 9 Oktober 1740. Bahkan setelah kemerdekaan Indonesia, mereka juga dipaksa bungkam akan eksistensinya. Kini setelah Reformasi, kaum Pecinan mendapatkan kebebasan. Atmosfir kemerdekaan yang sesungguhnya itu kini telah diperoleh. Sejarah pun telah mencatat, bahwa mutlak sekali jika kaum Pecinan telah menjadi warna dalam akulturasi kebudayaan Indonesia.

Tak hanya pecinan yang terkenal sejak lama, Jakarta masih menyimpan tempat-tempat lain yang memiliki nilai sosio-historis yang sangat tinggi dan menjadi trend masyarakat di zamannya. Terutama yang ditujukan sebagai fasilitas umum. Salah satu yang berbeda dengan masa sekarang adalah gedung pertunjukan film (teater/bioskop), baik yang masih berdiri maupun yang sudah lenyap dimakan moderenitas dan prilaku masyarakat yang anti terhadap zaman sebelumnya.

Awal abad ke-20 bioskop mulai dikenal oleh penduduk Batavia. Tercatat, sebagai pengusaha bioskop pertama di Batavia adalah seorang Belanda bernama Talbot. Ia mendisain “gedung” bioskopnya menyerupai bangsal berdinding gedek dan beratap kaleng (seng) di Lapangan Gambir (Monas). Setelah pertunjukan selesai, bioskop itu kemudian dibawa keliling kampung. Usaha ini kemudian diikuti oleh Schwarz, seorang Belanda yang tinggal di dekat Kebon Jahe, Tanah Abang. Bioskop Schwarz berakhir tragis, bioskopnya terbakar ketika menempati sebuah gedung besar di Pasar Baru. Namun, berikutnya muncul bioskop de Callone di Deca Park (sekitar mesjid Istiqlal). Bioskop de Callone mula-mula berupa bioskop terbuka di lapangan yang disebut “misbar,” gerimis bubar. De Callone kemudian menempati gedung di sekitar Pintu Air dengan nama berbeda, Capitol. Beberapa tahun kemudian, pengusaha Cina mendirikan bioskop Elite. Namun, bioskop itu tidak lama sebelum akhirnya dijual kepada Universal Film Co. tanpa diketahui sabab-musababnya.

Film-film yang trend dan sangat disukai kala itu adalah Fantomas, Zigomar, Tom Mix, Edi Polo, dan film-film lucu yang dibintangi oleh Charlie Chaplin, Max Linder, Arsene Lupin, dll. Film-film tersebut adalah film “bisu/gagu” (tak bersuara) yang diramaikan oleh orkes musik. Teknologi dulu memang belum seperti sekarang ini. Bagi anda penyuka film action, seperti perang di angkasa, perkelahian atau pemboman, tentu saja film bisu sangat tidak menyenangkan. Nah, untuk mengisi kekosongan suara, maka dibuatlah orkes musik. Misalnya, jika adegan film action, maka musik menjadi keras dengan tempo cepat. Jika film beradegan sendu, musik pun menyesuaikan, begitu pula jika adegan romantis, musik malah bisa lebih “menenggelamkan” hati dan perasaan penontonnya. Terkadang, musik dengan film tidak singkron. Semua itu tergantung trampil atau tidaknya gesekan tangan pemain musik orkes, terutama pemain biolanya. Salah seorang yang trampil bermain biola yaitu bernama Amat. Saking cekatannya, Bang Amat bisa menggesek biola tidak lagi dipundaknya, tapi di dada kirinya. Jari-jari tangannya pun sangat lihai, matanya tidak berkedip dan serius melihat adegan demi adegan yang ada di layar. Pemain biola yang berkacamata dan berkulit coklat kehitaman itu hampir berusia 50 tahun. Karena ia pernah show hampir di semua bioskop yang ada di Batavia, maka Bang Amat sangat terkenal dikalangan masyarakat penyuka bioskop.

Bagi kebanyakan kakek dan nenek kita yang lahir zaman itu (sekitar tahun dua puluhan) atau zaman dimana Jakarta ketika itu masih bernama Batavia (Betawi di mulut rakyat), bioskop sekarang sangatlah jauh berbeda. Di bagian utara kota atau dikenal dengan nama “Kota” (orang Belanda menyebutnya Benedenstad) hanya ada dua bioskop: Gloria Bioscoop di Pancoran dan Cinema Orion di Glodok. Sedangkan di bagian selatan kota (orang Belanda menyebutnya Bovenstad atau Weltevreden) ada Cinema Palace di Krekot, Globe Bioscoop di Pasar Baru, Deca Park di Gambir, dan Dierentuin di Cikini (di kompleks TIM sekarang).

Pada saat penyerahan Hindia Belanda kepada Jepang tahun 1942, bioskop yang ada di Jakarta setidaknya terdapat lebih dari 15-an bioskop, antara lain: Rex di Kramat Bunder; Cinema di Krekot; Astoria di Pintu Air; Centraal di Jatinegara; dua bioskop Rialto masing Senen dan Tanah Abang; Thalia dan Olimo di Hayam Wuruk; Alhambra di Sawah Besar. Bioskop lain kemudian berkembang, ada Bioskop Widjaja di Pasar Ikan dan Rivoli di Kramat yang khusus memutar film-film India, ada Mega(h)ria (Metropole) di Cikini yang trend di tahun 50-an sebagai bioskop kelas atas di Jakarta. Bioskop lain adalah Oost Java terletak di pojok jalan Merdeka Utara – jalan Veteran III. Di gedung inilah dalam Kongres Pemuda II lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan oleh WR. Supratman. Sekarang Oost Java sudah tidak ada lagi. Begitu pula Rembrant di Pintu Air, bioskop itu kini tinggallah kenangan.

Sebelum tahun 50-an, Capitol-lah bioskop yang paling mahal di Batavia. Bioskop ini selain dikhususkan bagi orang Belanda, sebagai perkecualian adalah para bupati dan pejabat Volksraad (anggota dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda), tarifnya cukup mahal untuk zaman itu, yaitu satu setengah gulden.

Penonton bioskop di Bovenstad pada umumnya berasal dari masyarakat atas, yaitu para ambtenaar (pejabat pemerintahan), para tuan toko, para pemimpin perusahaan besar Belanda dan pegawai-pegawainya, serta orang-orang dari golongan berduit. Sedangkan penonton bioskop di daerah Benedenstad umumnya dari golongan menengah ke bawah. Harga-harga karcisnya pun di bioskop bagian selatan kota lebih tinggi ketimbang di utara kota.

Nonton bioskop di Batavia kala itu menjadi gengsi tersendiri. Hampir tiap malam jadi perhatian banyak orang, terutama kalangan pemuda. Terang saja karena era televisi belum ada. Tontonan bioskop menjadi primadona. Terlebih lagi promosi film biasanya diarak keliling kota menggunakan delman atau sado yang dipajangi poster-poster film yang akan diputar malam itu serta nama bioskop bersangkutan. Usaha ini tentunya sangat menarik perhatian bagi siapa saja yang berada di pinggir jalan. Biasanya genderang / tambur dipukul-pukul untuk membuat suasana jadi bising. Pak kusir pun tak mau ketinggalan membunyikan terus menerus bel/klakson delmannya. Poster-poster atau brosur disebarkan ke pinggir jalan di mana orang-orang berkumpul. Kesempatan ini biasanya dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mengambil poster-poster itu sambil berlarian. Maklum ketika itu jalanan kota masih sepi dari lalu lintas kendaraan bermotor tidak seperti jaman sekarang.

Nonton bioskop tempo dulu sangatlah tidak nyaman seperti jaman sekarang. Terutama jika nonton bioskop di daerah Kota. Penonton wanita berpakain cantik dan menor, sedangkan pria biasanya berpakaian serba santai, alias seenaknya sendiri. Ada yang memakai setelan jas komplit (jas tutup menurut mode jaman itu dan pantalon), ada juga yang menggunakan jas dengan bawahan celana komprang (sejenis celana piyama), dan ada yang menggunakan setelan piyama lengkap. Mungkin golongan terakhir ini tidak tahu kalau piyama hanya digunakan untuk tidur. Ini jelas diluar kebiasaan penonton bioskop masa kini.

Ada yang unik jika kita menonton bioskop tempo dulu, yaitu tidak ada aturan “untuk 13/17 tahun ke atas.” Akibatnya banyak anak-anak kecil yang ikut nonton bersama orang tuanya. Namun, ada peraturan yang berbeda dengan sekarang. Di bioskop tempo dulu tempat duduk antara laki-laki dan perempuan dipisah. Biasanya banyak pasangan anak muda atau suami istri yang melanggarnya. Ini mungkin saja karena kasihan jika pasangan perempuannya harus berjubelan keluar saat film selesai. Pemandangan tambah semrawut, karena para pedagang asongan ikut masuk ke dalam bioskop. Sambil berteriak “Kwaci..., Palamanis..., Kacang Arab...” seakan-akan hendak menyaingi lagu-lagu dari musik orkes, percapakan calon-calon penonton dan hiruk pikuk bisingnya kendaraan yang lalu lalang di depan bioskop. Bayangkan, nonton bioskop jaman dulu seperti naik kereta api listrik jurusan Bogor – Kota dipagi saat orang berangkat kerja atau sore hari ketika orang pulang kerja, panas berkeringat, penuh sesak, dan berjubelan dengan para pedagang. Sehingga kejahatan sangatlah rawan terjadi dalam kondisi seperti ini.***

Barang siapa tidak mau mengenal masa lalu, berarti ia tidak mau mengenal dirinya.”

Save the Heritage!”






Saturday, April 22, 2006
Untuk diketahui...

SURAT KETERANGAN
No: Istimewa/B/KPSBI-HISTORIA/IV/2006
 
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama     : ASEP KAMBALI
Jabatan   : Ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia
               Biasa disingkat KPSBI-HISTORIA atau Komunitas Historia.
 
Dengan ini menerangkan bahwa nama:
1. Anis Hidayah Jl. Cipinang Pulo Maja Kel. Cipinang Besar Utara..
2. Yardian Wensdi  Jl. Karya Utama Gg H. Sinan Srengseng Jakarta Barat.
3. Annisa Masyitoh Jl. Terusan Pak Gatot raya Gegerkalong girang, Bndung,
4. Irine Desita, Flat Benhil 2 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
5. Margaret Arni Jl. Nangka Beji Depok Utara 16421.
6. Asri Nuraini, Ayi Jl. Tk. Balian Renon, Denpasar.
7. Nurhayati, Puri Hutama Jatimulya  Bekasi Timur.
8. Yusi Febriani Jl.Loader No 5 Bogor
9. Rahajeng Hapsari Jl. Wadas Jaticempaka Pondok gede. Bekasi. 17411
10. Ira Sophia Komplek Banjar Wijaya, Tangerang,
11. Kusgianti Jl.Rambutan III Perum Gn. Putri  Cibinong.
12. Elisa Karoline Komplek Ulujami Indah Ulujami, Pesanggrahan.
13. Arini C Kumara JL. Siaga Baru Pejaten Barat 12510.
14. Isyana Suci Kartini Jl Dr Semeru Bogor.
15. Erlin [Cipinang Timur IV Rawamangun 13240
16. Evita Permatasari Komp. Dpr  Jakarta Barat 11550
 
Adalah benar anggota (member) KPSBI-HISTORIA yang terdaftar resmi dan tercatat dalam database KPSBI-HISTORIA. Nama-nama tersebut telah dicemarkan dalam Cyber Crime dengan fitnah yang sangat keji dan tidak bertanggung jawab sebagai seorang "tukang pijat" oleh seseorang yang mengatasnamakan dirinya migrant_care@yahoo.com.
 
Maka dengan ini saya menyatakan bahwa nama-nama tersebut benar-benar bersih dan resmi sebagai anggota KPSBI-HISTORIA bukan seperti yang di fitnahkan oleh si pelaku. Dan kami menuntut kepada pelaku untuk diproses secara hukum.
Demikian surat pernyataan ini kami sampaikan. Kepada semua pihak, khususnya kerabat/saudara/suami/istri/anak dari rekan-rekan yang menjadi korbang, dan bagi member-member baru yang belum mengetahui kasus ini agar berhati-hati dan tidak terpancing emosi dengan hal-hal yang tidak jelas dan merendahkan ini. Semoga kita bisa arif dan bijaksana dengan adanya kasus ini.
Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.
 
Jakarta, 18 April 2006
Asep Kambali
(Ketua)

Untuk ke Mabes POLRI.

SURAT PERNYATAAN

Kepada Yth,
Bapak/Ibu/Saudara/i/ dan Rekan-rekan

Dengan hormat,

Ijinkan saya untuk memperkenalkan diri, nama saya Asep Kambali, saat ini menjabat ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-HISTORIA), suatu wadah bagi kawula muda dan masyarakat pecinta sejarah dan budaya. KPSBI-HISTORIA biasa mengadakan acara jalan-jalan atau wisata sejarah yang yang bernama Jakarta-Trail. Program Jakarta-Trail dahulu bernama Wisata Kampung Tua yang dikelola bersama Museum Sejarah Jakarta. Nama lain dari acara kita adalah Jelajah Budaya, Jelajah Kota Tua dan Wisata Kota Tua, di akhir tahun 2005, tepatnya bulan Desember 2005 lalu, program-program tersebut dilebur menjadi satu nama yaitu Jakarta-Trail hingga saat ini.

KPSBI-HISTORIA adalah sebuah lembaga nonprofit-independent berbentuk komunitas. Keanggotaan KPSBI-HISTORIA tersebar di seluruh  Indonesia bahkan luar negeri. Secara resmi KPSBI-HISTORIA memiliki kurang dari seribu orang. Namun, puluhan ribu orang sudah pernah mengikuti acara-acara kami.

KPSBI-HISTORIA memiliki wadah email berantai atau Mailing List (Millist) yang diberi nama komunitashistoria@yahoogroups.com. Millist KPSBI-HISTORIA terbuka untuk umum, bagi siapa saja yang peduli dan cinta terhadap sejarah dan budaya Indonesia serta terhadap upaya-upaya pelestarian budaya dan pusaka Indonesia.

Hasil rapat internal pengurus, awal tahun 2006 ini KPSBI-HISTORIA berencana untuk mendata anggota Millist melalui formulir yang dikirim dalam e-mail kang_asepk@yahoo.com (alamat e-mail resmi Asep Kambali, owner sekaligus moderator millist komunitashistoria@yahoogroups.com) yang disebar ke Millist komunitashistoria@yahoogroups.com. Di dalam e-mail kang_asepk@yahoo.com, pengurus sudah memberikan arahan bahwa formulir itu harus dikembalikan (reply) melalui japri (jaringan pribadi) ke kang_asepk@yahoo.com bukan ke jarum (jalur umum) mailing list komunitashistoria@yahoogroups.com. Jika dikirim ke jarum/millist maka KPSBI-HISTORIA tidak akan bertanggung jawab atas data yang telah disebar jika nantinya digunakan oleh pihak-pihak tertentu secara tidak wajar.

Ternyata dugaan serta kekhawatiran KPSBI-HISTORIA benar terjadi. Ada pihak tertentu (seseorang) yang telah memanfaatkan data pribadi anggota yang dikirim ke jalur umum ini (millist) secara tidak wajar. Orang tersebut mengumpulkan data-data pribadi itu sebagai lonte-lonte panti pijat (yang dia namakan begitu) dan menyatakan Anis Hidayah sebagai pimpinannya. INI TIDAK BENAR, Karena Anis Hidayah adalah resmi anggota KPSBI-HISTORIA, juga data-data yang telah dicemarkan nama baiknya oleh si penjahat itu dapat di lihat dalam email-email sebelumnya. 

Si penjahat yang tidak bertanggung jawab ini menggunakan alamat e-mail dengan user neme Migrant CARE dan user id migrant_care@yahoo.com yang ketika di chek di list member komunitashistoria@yahoogroups.com alamat e-mail tersebut tidak ada (invisible). Terlihat si penjahat ini lumayan pintar, tapi bukan berarti tidak dapat di lacak.

Lebih parahnya lagi si penjahat itu terang-terangan membuat e-mail address yang hampir mirip dengan e-mail address kang_asepk@yahoo.com yaitu dengan menambahkan hurup a di awal kata kang menjadi akang_asepk@yahoo.com. Kemudian si penjahat itu menyatakan bahwa Asep Kambali sebagai pimpinan panti pijat yang beralamat  di Jl. Pemuda Rawamangun Jakarta Timur dengan Telepon 021.7044-..., Kemudian si penjahat itu meng-copy–paste semua data yang telah dibuatnya dan mengirimkannya ke publik.

Yang lebih mengagetkan adalah bahwa yang mendapatkan e-mail tersebut adalah relasi dan kolega di hampir semua lembaga formal, kedutaan besar, rektor-rektor universitas, perusahaan, pribadi, dll. Kontan saja rekan-rekan menelepon menanyakan tentang kebenaran isi dari e-mail tersebut dan meminta klarifikasi. Sebagian besar mereka kaget dan tidak percaya, namun yang saya khawatirkan mereka akan menganggap itu semua benar adanya.

Yang berbahaya, email tersebut di kirim ke orang lain yang saya sama sekali tidak mengenalnya dan bahkan ke dalam mailing list lain. Aakibatnya, kami mendapatkan telepon bertubi-tubi, ada yang meminta klarifikasi, ada yang menanyakan bahkan memesan "lonte", tiba-tiba saya dicaci maki bahkan ada yang mengancam akan mendatangi rumah saya untuk di demo, karena ternyata di dalam e-mail tersebut alamat saya begitu jelas tercantum. Kenapa? Karena msejid-mesjid tua yang pernah diupdate di millist sebagai informasi dan objek kajian kita bersama, ternyata di jadikan basecamp panti pijat oleh si penjahat...!

Saya juga tentunya banyak mendapatkan teguran dari member komunitashistoria@yahoogroups.com yang meminta saya untuk bertanggung jawab atas kejadian ini. Karena khawatir mereka (member yang menjadi korban) akan mendapatkan telepon yang sama dari orang lain yang tidak mengerti duduk persoalnannya. Kemudian saya berusaha untuk mengklarifikasi dan menjelaskannya bahwa kejadian itu diluar jangkauan KPSBI-HISTORIA, dan kami tetap akan bertanggung jawab untuk menyelsaikannya melalui jalur hukum. Ke depannya kepada semua member, baik yang lama maupun baru agar mengisi formulir dan mengembalikannya langsung ke japri kang_asepk@yahoo.com bukan ke mailing list Komunitas Historia.

Saya sangat khawatir dengan kejadian ini akan banyak member komunitas yang dirugikan, seperti mendapatkan telepon dari orang yang iseng dan tidak mengerti persoalannya, bagaimana jika yang mengangkat telepon itu pacar, suami atau istirinya, maka untuk itu KPSBI-HISTORIA membuat surat pernyataan dan keteranan yang ditujukan kepada semua member secara khusus dan umumnya kepada semua pihak yang mendapatkan informasi yang SALAH guna mengembalikan nama baik  member Komunitas Historia, Organisasi KPSBI-HISTORIA, dan pribadi saya sebagai Ketua dari KPSBI-HISTORIA juga semua pihak yang merasa dirugikan dengan adanya kasus ini.

Saya mewakili KPSBI-HISTORIA,  memohon beribu maaf, khususnya, kepada member Komunitas Historia, karena data-datanya telah disalahgunakan, kepada relasi, kolega dan masyarakat luas yang mendapatkan informasi yang SALAH yang disebarkan oleh si pelaku. Kami menyadari bahwa kasus ini sangat mengagetkan dan membahayakan pihak-pihak yang yang menjadi korban pencemaran nama baik, bahkan si pelaku dengan sengaja menggunakan mesjid-mesjid sebagai panti pijatnya, yang notabene mesjid tersebut adalah mesjid besejarah peninggalan jaman Belanda yang menjadi pusat kajian dan kunjungan para anggota dan masyarakat pecinta sejarah dan budaya Indonesia (KPSBI-HISTORIA). Karena, di dalam millist Komunitas Historia, semua pihak terutama member dapat berkomunkasi dan bertukar pikiran mengenai berbagai hal, informasi dan event sejarah dan budaya yang ada dan terjadi di Indonesia khususnya di Jakarta. Gedung/benda-benda/bangunan tua, jalan-jalan/gang tua, kawasan atau kampung-kampung tua, kegiatan-kegiatan kesejarahan dan kebudayaan, cerita atau peristiwa sejarah yang ada di Indonesia khususnya Jakarta, menjadi objek pembahasan dan sharing antar anggota dan masyarakat pecinta sejarah dan budaya bangsa yang tergabung dalam KPSBI-HISTORIA.

Kami memohon kepada semua untuk turut membantu menyelesaikan kasus ini dan menjadikan kasus ini sebagai sarana pembelajaran dalam hidup agar lebih bijaksana. Diharapkan untuk tidak membesar-besarkankan kasus ini, karena si penjahat itu akan semakin senang dan mentertawakan kita. Kita seharusnya tenang dan tetap waspada, bahu membahu bersama-sama menyelesaikan kasus ini. Karena bisa saja, penjahat itu membuat alamat e-mail lain atau bahkan sudah menjadi member sejak lama dan memantau dengan seksama, siapa tahu, iya kan?

'Jangan-jangan Anda yang sedang membaca e-mail ini adalah pelaku bejat, tidak punya kerjaan, dan tidak bertanggung jawab itu? Jika benar, Anda pasti percaya, semoga Tuhan memaafkan Anda, memanjangkan umur Anda, semoga Anda segera mendapatkan pekerjaan dan sukses, semoga saudara, istri dan anak anda kelak menjadi hebat dan berhasil melebihi Anda. Terima kasih atas semua yang telah Anda lakukan pada kami yang tidak bersalah. Tapi jika kami pernah berbuat salah kepada Anda, baik di sengaja ataupun tidak, kami minta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Anda membaca e-mail ini dan mengerti arti sebuah kedamaian".

"Saya memberikan kesempatan kepada Anda untuk jujur mengakui secara pribadi kepada saya melalui e-mail: kang_asepk@yahoo.com dan telp. 021.7044.7220, sebelum pihak Mabes POLRI menangkap Anda. Saya akan memaafkan Anda dan akan melupakan apa yang telah Anda lakukan pada kami. Saya akan menjamin kerahasiaan Nama dan Diri Anda dan saya akan  mencabut laporan saya dan meminta Pihak Mabes POLRI untuk menghentikan kasus ini. Saya lebih sukan kedamaian, bukan permusuhan".

Kasus seperti ini masuk kedalam kategori cyber crime yang bagi masyarakat Indonesia adalah kasus langka. Dengan adanya kasus ini tentunya pihak kepolisian akan mengambil langkah yang tegas guna membantu dan mengayomi masyarakat dari kejahatan, apapun bentuk kejahatannya. Kita masih percaya bahwa Kepolisian RI sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dapat menegakkan hukum seadil-addilnya bagi semua masyarakat.

Demikian kami sampaikan, semoga semua pihak dapat memakluminya.
Atas perhatian, kerelaan hati, bantuan serta kerjasamanya dalam menghadapi kasus ini, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Anda sekalian.


Jakarta, 15 April 2006.
Hormat kami,

Asep Kambali
Ketua KPSBI-HISTORIA



Artikel...

Membangkitkan Gairah Bersejarah

Pertama: Cermin Generasi Muda Kita
Mungkin gak ya, pada saat sekarang ini ada anak sekolah dasar (SD) yang gak kenal sama mall, internet (bukan indomie telor kornet lho…), chating, browsing, surfing, play stations (PS)….? Kayanya gak mungkin deh…. Semua anak SD sekarang ini udah lebih maju dan hebat - hebat. Semua Fasilitas ini dapat kita temui di setiap sudut kota, baik punya pribadi atau pun nyewa, pokoknya anak SD sekarang udah jadi modern…. Canggih …. Techno freak…. Technocrat kali yee…. Wong yang kaya gitu banyak banget,ada di mana - mana kaya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Padang, Medan, Bali wah banyak lagi deh… Apa lagi nih, anak - anak sekarang merupakan generasi instant mulai dari mie instant sampai jaringan internet pun ikut - ikutan pake kata instant ….gila mau jadi apa yah….?

Mereka kayanya sudah gak mau susah - susah lagi, perut laper tinggal ke Mc D aja, or Pizza Hut, and other fast food lah…. Coba Tanya mereka pernah makan atau kenal ga sama yang namanya karedok, gudeg,kue pancong? Kue surabi, apa kenal juga sama colenak….? Ntar dulu dalam hal fashion. Mereka juga gak mau ketinggalan frend, coba liat di mall - mall ada gaya Agnes Mo Nikah ….(Ups Monica), Britney Spears…. Jhon Lenon (ah yang ini mah gaya oma- oma gue men, jadul abizz...) hebat gak??? Gimana nasib batik, baju lurik, ulos, dan kebaya…?

Okey sekarang kita lihat mereka ngapain sih kalo pulang sekolah. Ada warnet buat maen online game, kaya "CS" (tau ga CS?) or ragnarok yang lagi menjamur, di rumah maen PS? (masa yang ini juga ga tau?) Emmhhh… coba deh Tanya dan ajak mereka untuk main dampu, maen karet, galasin, tok lele, getrik, bentengan, atau he…he…he… maen kotor - kotoran" nah lho…. Gimana donk??? Untung ada frase bagus salah satu iklan di televisi yang mengingatkan pentingnya kotor- kotoran dalam proses belajar "kalo ga kotor, ya gak belajar!!!" Eh nanti dulu ternyata masih ada lagi, Anak sekarang pasti tau salsa donk…. Kalo break dance? Sekarang apa mereka tahu soal Tari Piringnya orang Minang…. Ia galigo, jaipong, atau tari Topeng Betawi dengan gambang kromongnya…? Jangan - jangan mereka taunya cuman Wade Robson Project di MTV, tari tanggo, dugem, wah gawat neh…

Mau di bawa ke mana Indonesia yang kaya akan budaya dan sejarah besar bangsa ini oleh generasi muda kita yang seperti itu. Generasi tanpa kesadaran akan pentingnya budaya dan sejarah masa lalu demi masa kini dan masa yang akan datang.

Itulah potret generasi muda kita (Sagita 2004) jujur, tidak sedikit di antara kita pun sebagai orang tua mengerti dan memahami mereka. Pendidikan

Sejarah dan Museum
Hari ini tidak akan ada tanpa hari kemarin, dan esok tidak akan hadir tanpa melalui hari ini, Begitulah sejarah tak pernah usai dan tak berujung sepanjang hidup manusia. Sejarah tanpa manusia adalah bohong dan manusia tanpa sejarah adalah kemustahilan. Karena itulah sejarah selalu membahas kehidupan manusia dimanapun ia berada. Ungkapan diatas menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya mempelajari masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa yang akan datang. Masa lalu merupakan sesuatu yang penting untuk diketahui dan dipahami agar apa yang telah terjadi dimasa lalu bisa dijadikan pelajaran dalam menapaki hari ini dan melangkah menuju masa depan. Demikian seperti ungkapan "We learn history for learning the present and building the future." (kambali, 2005).

Generasi masa kini harus mampu memahami dan belajar dari pengalaman sejarah. Dengan memahami pentingnya belajar dari pengalaman sejarah, diharapkan pijakan untuk membangun masa kini dan masa depan menjadi terarah. Pijakan dalam membangun masa depan melalui masa lalu bukan saja untuk kepentingan masa kini dan masa depan (kuntowidjojo, 1997)

Berdasarkan pemahaman di atas, pendidikan sejarah sangat penting diberikan kepada generasi muda dalam rangka membangun pemahaman siswa yang berspektif waktu dan memori bersama (KBK 2004). Melalui pendidikan sejarah diharapkan siswa dapat mempertajam wawasan kebangsaan baik ke luar maupun ke dalam kesatuan sosial mereka. Hal ini penting dalam rangka memperkuat dorongan kebersamaan untuk mencapai cita - cita bangsa setelah belajar dari pengalaman masa lalu (Ayatrohaedi, 1985) Oleh karena itu kesadaran sebagai satu bangsa perlu di bina terhadap generasi muda agar jiwa patriotisme dan nasionalisme mereka dapat tumbuh sebagai modal pembangunan dalam mengisi kemerdekaan.

Kompetensi pendidikan sejarah diberikan kepada siswa bertujuan untuk memperoleh kemampuan berfikir historis dan kesadaran sejarah, Melalui pendidikan sejarah di sekolah, diharapkan siswa mampu memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat dalam rangka menumbuhkan jati diri bangsa Indonesia.

Salah satu media pembelajaran dalam pendidikan sejarah yang terpenting adalah museum. Melalui museum diharapkan pendidikan sejarah dalam kerangka menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda dapat tercapai. Karena museum diharapkan pendidikan sejarah dalam rangka menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda dapat tercapai. Karena museum merupakan jendela dunia yang mampu membuka mata kita terhadap sejarah kehidupan bangsa (Kreasi Maret 2005) Melalui museum kita bisa mengetahui bagaimana perjalanan panjang dari bangsa kita, yaitu Indonesia.

Keberadaan museum sebagai lembaga yang menyimpan, memelihara dan memamerkan benda - benda warisan budaya yang bernilai sejarah saat ini masih bisa dikatakan hidup segan mati tak mau. Kenapa tidak, keberadaan museum tidak berbeda jauh dengan sebuah monument yang dibangun dengan makna dan nilai kejuangan yang terkandung di dalamnya seolah pudar di mata masyarakat (Hermawan, 2004). Dewasa ini, masyarakat masih memandang keberadaan museum sebagai tempat yang membosankan. "Hare geneh ngomongin museum, emang gak ada topik lain apa? Nggak ah, bosen gueh, gak asyik, gak gaul, nge - Be Te - In, jadul banget, kotor, kumuh, wuiih syureeem dech. "Kalau toh banyak pelajar atau mahasiswa berkunjung, boleh jadi itu karena tugas atau program dari sekolah (Media Indonesia, 8 Mei 2005). Boro - boro bisa menikmati kunjungan, membuat laporan atau paper telah mencekik mereka dahulu karena harus dibuat setelah acara kunjungan.

Anggapan tersebut memang tidak salah tetapi juga tidak 100 persen benar. Karena itu tidak heran jika museum penuh sesak oleh para pelajar dari berbagai daerah saat musim liburan tiba. Terutama museum - museum yang berhubungan dengan materi pelajaran di sekolah. Padahal keberadaan museum tidak dikhususkan bagi para pelajar mahasiswa atau peneliti saja. Namun untuk semua orang dari berbagai kalangan tanpa membedakan status pendidikan, agama, ras bahkan status sosial ekonomi. Karena keberadaannya tidak hanya diperuntukan bagi salah satu kelompok masyarakat, maka dalam memberdayakan museum, semua kalangan yang ada di masyarakat perlu dilibatkan. Keberadaannya tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola atau kurator museum semata, tetapi masyarakat luas.

Peran Pengelola Museum
Pengelola musem telah rela bercucuran keringat dan berusaha semaksimal dalam upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap keberadaan museum. Tak pelak juga beban berat yang dipikul mereka ketika harus berdiri di ganda paling depan terhadap baik buruknya museum. Mereka dituntut harus terus berusaha menata museumnya agar mampu di "jual" kepada masyarakat. Hal ini tak sebanding dengan minimnya anggaran yang diterima dengan mahalnya biaya perawatan dan pemeliharaan karena museum kebanyakan memiliki kondisi bangunan dan koleksinya yang rentan dimakan usia.

Bukan hal yang mudah menjadikan museum agar dapat diminati dan dikunjungi masyarakat. Hal ini terkait dengan bagaimana packaging - nya?Di luar negeri, museum menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi liburan atau sekedar weekend - an sambil refreshing. Sampai - sampai kalau mau masuk museum harus ngantri beberapa saat. Berbeda dengan di Negeri kita yang ngantri itu kebanyakan di Mall, pas beli tiket teater 2.1, di jalan raya alias macet, di halte busway, ditambah lagi antri BBM (nah yang ini ngantri, Aneh yah… Kenapa di museum kita enggak?

Sulit kalau harus membandingkan dengan museum yang berada di belahan benua lain. Pengelolaan yang profesional, menjadikan tempat peninggalan masa lalu di negara itu menjadi salah satu objek tujuan wisata (OTW) alternative, Misalnya The Metropolitan Museum of art di New York Amerika Serikat. Museum yang juga dikenal dengan nama "The Met" ini memiliki berbagai variasi program yang dirancang berbeda untuk berbagai kalangan. Ada Famili Program. Student Program Teacher Program, konser, film, sampai ke acara "serius" seperti seminar atau lokakarya. Di Negara lain semisal Inggris, terdapat Town Square yang merekonstruksikan kota kecil sehingga anak - anak yang berkunjung dapat mengamati kehidupan sehari - hari dan mencoba pekerjaan orang dewasa.

Tak kalah menarik di Amsterdam Belanda misalnya, terdapat Tropenmuseum junior yang sama sekali tidak memiliki artefak - artefak untuk dipamerkan. "koleksi" museum ini adalah tarian, nyanyian, permainan dan cerita tradisional dari berbagai belahan dunia yang dipamerkan lewat peragaan langsung yang melibatkan pengunjung anak - anak di era sekarang. Kehidupan yang semakin padat dan penat menyebabkan masyarakat memburu tempat - tempat yang dinilai mudah, praktis, dan hemat dalam mengisi waktu luangnya untuk liburan. Nah,agar museum menjadi cantik sehingga menarik hati masyarakat, seyogyanya museum kita segera membenahi diri.

Seperti beberapa saran berikut:
Sudah saatnya museum dilengkapi dengan taman bermain (play ground). Dengan tempat ini, anak - anak akan betah di museum bahkan esok atau lusa mereka pasti akan meminta lagi kepada orang tua untuk berkunjung ke museum. Lengkapi juga museum dengan pepohonan yang rindang karena hal ini akan menjadikan suasana sejuk dan menggairahkan. Tanpa merusak bangunan yang ada, tak lupa sediakan perpustakaan, ruang orientasi, audiovisual, dan ruang serbaguna sebagai sarana edukasi dan penelitian. Sarana penunjang lain seperti toilet, jangan disepelekan karena akibatnya akan fatal. Cafeteria, wartel, warnet, rest room, dan souvenir shop, (bila perlu dilengkapi semacam toko serba ada) akan semakin membuat pengunjung betah dan nyaman tinggal berlama - lama dimuseum. Yakni masyarakat tidak akan bosan, dan besok atau masyarakat akan berkunjung ke museum terus.

Beberapa ruangan juga perlu dilengkapi dengan AC. Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah penataan koleksi yang menarik, agar tidak terkesan menumpuk, dan kaku. Pencahayaan yang sesuai agar koleksi menjadi hidup dan enak dipandang, tidak kumuh dan tidak menyeramkan. Labeling yang lengkap menjadikan koleksi bernilai dan mempunyai makna, jadi hidup gitu loch.Dalam rangka mengikuti laju perkembangan teknologi dan globalisasi, sudah seharusnya museum berbasiskan Information Technology (IT) yaitu dengan melengkapi museum dengan web.site, cd iteraktif dan atau semacam cyber museum. Dengan itu nantinya diharapkan seluruh rakyat Indonesia di mana pun mereka berada bisa "mengunjungi" museum sesuka hatinnya. Mereka akan dapat melihat isi koleksi, mencari sumber referensi penelitian sejarah, memenuhi tugas sekolah dan kuliah, bahkan berkomunikasi langsung dengan kurator atau pegawai museum.

Yang terpenting, pengelola museum harus pintar - pintar membuat dan mengemas berbagai bentuk kegiatan yang kreatif dan menghibur, semisal wisata museum, workshop, festival, lomba menulis, lomba menggambar, family gathering at museum, nonton film di museum dan segudang kegiatan yang sifatnya having fun with museum. Dengan begitu, selain menghibur, museum terbukti mampu mendidik masyarakat sesuai tujuan dibentuknya museum, yaitu rekreasi dan edukasi.

Peran praktis pendidikan
Pertama kali mengenal museum, kebanyakan dari kita, tentunya melalui guru sejarah di sekolah. Memang, selain oleh para pengelola museum sendiri, hingga kini, keberadaan museum banyak disosialisasikan kepada masyarakat oleh kalangan praktisi pendidikan di sekolah (guru). Salah satunya adalah berkunjung ke museum. Hal ini terungkap dari penelitian terhadap pengunjung museum dan pelajar di kota Bandung yang menunjukkan, sebagian besar pelajar datang untuk pertama kali ke museum karena diajak atau ditugaskan oleh guru di sekolah (Hermawan, 2002). Dengan kata lain, guru sejarahlah yang "melakonkan" museum agar museum beserta isinya menjadi menarik dan lebih "Hidup" Oleh gurulah museum diperkenalkan keberadaannya kepada masyarakat serta berbagai manfaat positif yang bisa diperoleh dengan mengunjungi. Melihat peran serta guru yang begitu besar dalam memperkenalkan keberadaan museum kepada masyarakat, diperlukan suatu kerja sama yang saling menguntungkan antara pengelola museum dengan guru. Terutama dalam penyelenggaraan program pendidikan yang dilakukan oleh museum. Lebih kongretnya, dilakukan kerjasama antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah DKI Jakarta dengan pengelola museum atau Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dalam setiap aktivitas membangun kecintaan generasi muda terhadap museum.

Dengan begitu, siswa bisa memperoleh hasil belajar yang maksimal, seperti yang diharapkan. Selain itu setelah kunjungan pertama karena mengerjakan tugas, siswa diharapkan bisa kembali berkunjung karena kesadaran sendiri. Agar pada diri siswa tumbuh suatu kesadaran untuk tetap mau berkunjung ke museum walau tidak mengerjakan tugas, guru perlu terus membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang sejarah masa lalu bangsanya. Mudah - mudahan dengan begitu dari sekian banyak generasi muda ada beberapa orang yang menjadi guru sejarah dan atau pegawai museum, amin.

Peran Perguruan Tinggi Keguruan
Selaku lembaga yang mencetak calon - calon guru, Perguruan Tinggi Keguruan (PTK) semisal Universitas Pendidikan Indonesia (LIPI) dan Universitas Negeri Jakarta (UNI), Eks. IKIP Jakarta) mempunyai peran yang tidak kecil dalam memasyarakatkan keberadaan museum sehingga menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran. PTK perlu memperkenalkan keberadaan museum kepada museum mahasiswa agar mereka memperoleh wawasan dan pengetahuan bagaimana memanfaatkan museum sebagai sumber belajar secara tepat dan benar.

Hal ini diperlukan karena para mahasiswa PTK merupakan calon yang berdiri di garda paling depan dalam dunia pendidikan. Pengenalan pemanfaatan museum sebagai sumber belajar yang tepat kepada mahasiswa PTK sebenarnya dapat dilakukan melalui kerjasama antara PTK dengan pengelola museum. Hal ini telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dengan UNJ dalam berbagai kegiatan pengenalan museum.

Peran serta Masyarakat dan Stakeholder
Selain sebagai tempat belajar bagi para pelajar, mahasiswa atau para peneliti, museum juga merupakan tempat bagi masyarakat luas dalam menikmati berbagai peninggalan sejarah masa lalu. Kelompok ini datang ke museum dengan tujuan utama berekreasi atau liburan dengan biaya yang relatif murah. Mereka juga bisa memuaskan rasa ingin tahunya akan hal - hal yang baru.

Sajian pameran yang unik menarik dan menghibur sangatlah diperlukan. Keterlibatan masyarakat dalam memberdayakan museum sangat diperlukan. Dalam mengisi liburan, orang tua perlu mengajak anak -anak mereka berkunjung kemuseum dengan tujuan rekreasi dan memperkenalkan sejarah budaya bangsanya sejak dini, bukan hanya berwisata ke objek wisata atau mal. Melalui aktivitas itu. diharapkan liburan mereka menjadi lebih berkesan dan bermakna.

Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam memberdayakan museum pihak pengelola museum perlu melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Misalnya, pameran kudus dengan tema -tema yang menarik dan sedang trend di masyarakat atau kegiatan lainnya yang dikemas dalam suatu paket wisata museum yang menarik.

Selain itu berbagai kelompok dalam memberdayakan museum dapat pula diakomodir melalui pembentukan suatu paguyuban atau kumpulan orang- orang dari berbagai kalangan yang mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap keberadaan museum, diharapkan museum yang ada saat ini dan yang akan dibangun tidak hanya menjadi simbol atau monument sebuah kota yang selalu sepi dari pengunjung. Namun menjadi suatu tempat kebanggan warga kota yang selalu dipenuhi oleh pengunjung yang datang untuk belajar dan wisata.

Kemudian, rangkul stakeholder - stakeholder yang ada dalam masyarakat untuk dijadikan mitra dalam mensosialisasikan setiap program kegiatan bahkan kebijakan. Hal ini menyebabkan setiap program yang diadakan terasa basi dan itu - itu saja. Kita harus cari tahu dan berikan apa saja yang dibutuhkan masyarakat bukan mencari tahu apa yang harus dilakukan agar program terlaksana saja. Karena masyarakat akan lebih tahu apa yang akan dibutuhkannya ketimbang kita yang setiap harinya duduk di kursi pergi pulang sore. Caranya? Yah buat apa ada stakeholder itu?. Libatkan dalam setiap gerak dan kegiatan pemerintah. Dan bila perlu fasilitasi secara maksimal. Lakukan sharing akan setiap program dan jangan segan- segan untuk meminta bantuan kerjasama dalam melaksanakan dan mensosialisasikan program - program itu. Buat data base stakeholder - stakeholder yang ada jaga dan terus kembangkan komunikasi.

Dibantu masyarakat (stakeholder itu) pemerintah DKI Jakarta, segera adakan survey tentang kondisi masyarakat sekarang, Bagaimana harapan dan pandangan mereka terhadap museum, pendapat dan keinginan mereka terhadap museum. Hal ini perlu dilakukan sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan itu diperuntukan untuk masyarakat sendiri.

Penutup
Memperhatikan museum sebagai titik kajian yang begitu rupa seperti tergambar di atas, hendaknya museum segera membenahi diri dengan dibantu secara bersama oleh segenap masyarakat. Dalam pendidikan sejarah, museum perlu disosialisasikan kepada generasi muda dengan berbagai bentuk dan metode pembelajaran.

Program - program kegiatan seperti Wisata Sejarah dan Budaya yang diadakan KPSBI - HISTORIA; Wisata Kampung Tua dan wisata malam Museum Sejarah Jakarta; Wisata Bahari dan Jelajah Malam Museum Bahari; Workshop dan lomba membuat keramik di Museum Seni Rupa dan Keramik; Lomba membatik di Museum Tekstil; Telusur Malam di Museum Bank Mandiri; dan berbagai aktivitas lain yang diselenggarakan di seluruh museum yang berjumlah kurang lebih 60 buah di DKI Jakarta pada prinsipnya telah mencerminkan bahwa upaya memperkenalkan museum telah dilakukan dari dulu dan terbukti berhasil. Namun demikian, upaya itu harus terus digalakkan dan ditingkatkan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat dalam upaya pembentukan karakter bangsa guna memperkokoh integritas nasional.

Mengunjungi museum - museum sebagai tempat bersejarah bukan saja sebagai sarana rekreasi tetapi juga bermuatan edukasi. Hal lain yang tak diduga adalah menjadi sumber inspirasi. Sejauh mana kita dapat memperoleh inspirasi dari pengalaman belajar sejarah untuk dijadikan pandangan dimana kini dan masa yang akan datang

"Adalah benar bahwa hari ini diwarnai masa lalu, Dengan belajar sejarah kita akan dapat memilih warna masa depan sesuai dengan selera kita"
 
Oleh: Asep kambali.
__________________________________________________________________




Monday, April 03, 2006
Taman Arkeologi Onrust: Jejak Kolonial yang terbengkalai

PULAU ONRUST

Sejarah sebuah Pulau Sibuk yang Telah Istirahat

Oleh: Asep Kambali

 

Pengantar

Onrust adalah salah satu pulau di gugusan Teluk Jakarta yang memiliki berbagai tinggalan budaya dan sejarah dari masa kolonial Belanda. Kata Onrust sendiri berasal dari bahasa Belanda yang telah diserap menjadi bahasa Indonesia yang kini menjadi nama resmi dan tetap dari tersebut.

Pulau Onrust memiliki arti pulau tanpa tstirahat, hal ini merujuk pada aktivitas bongkar muat barang dan galangan kapal yang tanpa henti sepanjang hari di masa lalu. Namun demikian, Pulau Onrust ternyata dahulu, juga dikenal masyarakat sekitar sebagai Pulau Kapal. Hal ini disebabkan oleh aktivitas Pulau Onrust yang menyeruapai jantung, berdetak tanpa henti selama aktivitas bongkar muat dan galangan kapal masih ada.

Berdasarkan analisa kebahasaan, Kata Onrust diperkirakan muncul pada Abad 17. Hal ini didasarkan pada kata Onrust itu sendiri yang berasal dari bahasa Belanda. Onrust terdiri dari dua suku kata yang terdiri dari ‘on’ dan ‘rust’ yang dalam bahasa Inggris ditulis ‘un’ dan ‘rest’ yang berarti tanpa isitrahat. Kini, pulau Onrust dikenal sebagai pulau tanpa istirahat yang telah beristirahat.

Letak Geografis & Administratif

Secara geografis, Pulau Onrust terletak pada koordinat bumi dari titik 00 Greenwich pada 1060 441 011 Bujur Timur dan 60 021 311 Lintang Selatan dan memiliki luas kurang lebih 7,5 hektar dari sekitar 12 hektar pada masa VOC. Pulau Onrust berjarak kurang lebih 14 kilometer dari Ancol, Jakarta Utara. Secara administrarif Pulau Onrust terletak dalam wilayah Kelurahan Untung Jawa Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan Kabupaten Administrasi Kepuluan Seribu Daerah Khusus Ibu kota Jakarta.

Kini, pulau Onrust dinyatakan sebagai kawasan pulau bersejarah dan dilindungi melalui Keputusan Gubernur Kepala DKI Jakarta No. Cb. 11/2/16/1992 dan dikelola oleh Unit Pelaksa Teknis (UPT) Taman Arkeologi Onrust Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Akses ke Pulau Onrust

Pulau Onrust sangat mudah dicapai melalui tiga pelabuhan; Pelabuhan Marina Ancol, Pelabuhan Angke, dan Pelabuhan Muara Kamal. Dari ketiga pelabuhan tersebut, yang paling dekat dengan Pulau Onrust adalah Pelabuhan Muara Kamal. Dengan menggunakan perahu tradisional Pulau Onrust dapat dicapai dalam waktu antara 15-20 menit.

Yang Pernah Terjadi di Pulau Onrust

Periode Sebelum Abad ke-17

Sebelum abad ke-17, Pulau Onrust digunakan sebagai tempat peristirahatan raja-raja Banten. Daerahnya yang sejuk dan pepohonan yang rindang membuat para petinggi kerajaan Banten sangat menyenangi Pulau ini. Maka tak salah jika raja-raja Banten menggunakan Pulau ini sebagai tempat peristirahatan.

Pada tahun 1527, Fatahillah berhasil mengusai Kota Pelabuhan Kalapa. Ini merupakan buah dari keberhasilan armada perang yang dipimpinnya dalam merebut Kota Kalapa dari tangan Kerajaan Sunda Padjajaran yang berkoalisi dengan Portugis.

Periode Pemerintahan Belanda

Namun, setelah penguasaan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yaitu sebuah Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda di tahun 1619, Pulau Onrust digunakan sebagai tempat galangan kapal yang ditunjang dengan berbagai infrastruktur yang dibanguan berbeda rentang waktunya, seperti dermaga (1610), benteng (1656), gudang mesiu (1659), bastion (1672), dan kincir angin untuk penggergajian kayu (1674), dan lain-lain.

Beberapa bangunan tersebut telah hancur, tapi beberapa ada yang masih tersisa seperti dinding atau pondasinya saja. Bangunan-banguan tersebut mengalami kehancuran setelah serangan Inggris pada tahun 1803 dan 1806. Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jendral GA. Baron van der Capellen mambangun kembali pulau ini dan memperbaiki beberapa fasilitas yang hancur. Namun, gelombang tidal letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 kembali menghancurkan bangunan-bangunan yang telah diperbaiki itu.

Selama kurun waktu 1905-1911, Pulau Onrust pernah juga digunakan sebagai tempat stasiun cuaca, atau saat ini lebih dikenal sebagai Badan Mteorologi dan Geofisika (BMG).

Di era selanjutnya, kemudian Pulau Onrust berubah fungsi dan digunakan sebagai Karantina Haji hingga tahun 1933. Pelaksanaan Karantina haji dalam suatu kajian politik terungkap dalam buku Prof Dr. Aqib Suminto (Politik Hindia Belanda Terhadap Islam), bahwa ide karantina haji merupakan suatu sikap kekhawatiran yang sangat tinggi dalam pemerintahan Kolonial terhadap meluasnya gerakan Pan-Islam yang dimotori oleh Jamaluddin Al-Afghan; Muhammad Abduh; Muhammad Rasyid Ridha di Timur Tengah.

Biasanya orang-orang yang pergi melaksanakan ibadah haji akan bertahan di Tanah Arab paling sedikit 3 bulan. Kesempatan itu digunakan untuk belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka. Munculnya Gerakan Wahabi dan ide Pan-Islam yang menentang penjajahan orang Kafir akan memberi dampak pada militansi mereka yang menunaikan ibadah haji.

Kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda itu ternyata berbuah kenyataan. Hampir semua pimpinan perlawanan di tanah partikelir adalah mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Untuk mengawasi kegiatan orang-orang yang melakukan ibadah haji adalah melakukan karantina haji dengan alasan menjaga kesehatan. Pemerintah kolonial memberikan cap kepada mereka yang melaksanakan ibadah haji dengan kata (gelar) haji di depan nama orang itu. Dalam kenyataannya saat itu sejak munculnya Syarekat Islam (1912) lalu Muhammadiyah, para pimpinan Syarekat Islam di Barbagai kota baik di pulau Jawa dan pulau Sumatera adalah para haji.

Dengan pengkarantinaan tersebut akan mudah dilakukan pemantauan terhadap para jamaah haji setelah mereka kembali ke kampungnya. Menurut keterangan para saksi dari kalangan militant, tidak sedikit mereka yang dinilai “berbahaya” saat di karantina haji diberi “suntik mati” dengan alasan yang beragam. Maka tidak sedikit jemaah haji yang tidak kembali ke kampung halamannya karena di karantina di Pulau Onrust.

Dari sisi lain, karantina haji lebih kepada rasa Islam-Phobia atau rasa curiga dan keatakutan yang berlebihan terhadap Islam. Namun, setelah dilakukan penangkapan massal di seluruh Indonesia terhadap para aktivis pergerakan islam nasional non-koperatif, Pemerintah Belanda menganggap tidak perlu lagi dilakukan pemantauan yang ketat melalui wadah Karantina Haji di pulau Onrust. Memang dari jumlah orang-orang yang ditangkap, diasingkan dan dipenjarakan oleh pemerintah kolonial Belanda mayoritas adalah mereka yang telah diberi kata (red: gelar) haji ketika dikarantina di Pulau Onrust.

Pemerintah kemudian mengalihkan fungsi bangunan bekas karantina haji itu sebagai tempat tahanan politik di era tahun 1933. Tahanan pertama yang menghuni bekas barak karantina haji tersebut adalah tahanan Pemerintah Hindia Belanda yang melakukan pemberontakan di Kapal Zeven Provincien atau yang dikenal dengan “Kapal Tujuh”.

Peristiwa Zeven Provincien terjadi pada awal Februari 1933. Pemberontakan tersebut dipicu oleh diskriminasi pemerintah terhadap sistim penggajian anak buah kapal (ABK). Awak kapal pribumi dan Indo Belanda/Eropa menerima upah lebih kecil dibandingkan awak kapal kebangsaan Belanda/Eropa totok dalam satu uraian tugas. Misalnya seorang maatros (kelasi) pribumi upahnya sekitar 60 % daripada upah maatros (kelasi) yang berkebangsaan Belanda/Eropa dan upah maatros (kelasi) Indo Belanda/ Eropa 75% dari upah maatros (kelasi) yang berkebangsaan Belanda/ Eropa totok.1

Kondisi tersebut menambah kebencian awak kapal pribumi, sehingga mereka mengambil tindakan kekerasan dengan merebut komando kapal Zeven Provincien. Pemberontakan itu dipimpin oleh Kawilarang. Beberapa awak Indo Belanda ternyata mendukung rencana tersebut, diantaranya adalah Gosal dan Moud Boshart.

Pada 6 Februari 1933, Kapal tersebut yang sedang berlayar di perairan Oehlele Aceh berhasil direbut kendali kepemimpinannya oleh para pemberontak yang dipimpin Kawilarang. Pada tanggal 7 Februari, kapal tersebut sudah mencapai pesisir Sumeuleu terus menuju perairan Pulau Nias.

Esok harinya kapal sudah mencapai Selat Siberoet lalu menuju Pulau Mentawai hingga akhirnya menyusur masuk ke Selat Sunda. Komandan kapal perang Java, Kapten van Dulm terus membuntuti kapal Zeven Provincien. Ia juga memerintahkan agar pemberontak segera menyerah dan mengibarkan bendera putih. Namun, peringatan tersebut tidak diperdulikan oleh para pemberontak. Mereka justru menjawab akan meneruskan pelayaran hingga ke Surabaya.

Menerima jawaban tersebut, van Dulm kemudian memberikan ultimatum agar kapal Zeven Provincien menyerah dalam waktu sepuluh menit. Sekali lagi para pemberontak menjawab bahwa mereka menolak ultimatum tersebut. Akhirnya, van Dulm mengambil tindakan kekerasan untuk menghentikan pemberontakan tersebut. Pada hari Jum’at, 10 Februari 1933, tepat Jam 09.18 pagi, bom pertama dijatuhkan oleh pesawat terbang militer Dornier tepat diatas geladak Kapal Zeven Provincien. Bom tersebut menewaskan 20 awak Indonesia dan 3 awak Belanda. Selain itu, sejumlah awak Indonesia dan Belanda juga mengalami luka berat dan ringan. Melihat banyak korban yang bergelimpangan, pemimpin pemberontakan, Kawilarang, akhirnya menyatakan menyerah dan meminta bantuan medis segera.2

Setelah pemberontakan berakhir, Kapal Zeven Provincien yang kondisi alat-alat penggeraknya masih bisa digunakan kemudian dipandu berlayar menuju pulau Onrust dan berlabuh di sana. Jenazah awak Indonesia dan Belanda dibawa diangkut oleh Kapal Evertsen untuk dikuburkan. Jenazah awak Indonesia dikuburkan di Pulau Kelor, sedangkan jenazah awak Belanda dikuburkan di Pulau Bidadari. Para pemberontak Indonesia yang masih hidup dibawa dengan Kapal Java dan pemberontak Belanda dibawa dengan kapal Orion menuju Pulau Onrust. Pada hari Minggu, 12 Februari, pemberontak-pemberontak tersebut tiba di Pulau Onrust, termasuk Kawilarang dan Boshart yang selamat dari pemboman. Para awak Indonesia yang ditahan terdiri dari 100 orang yang tidak diborgol dan 50 orang yang diborgol. Sedangkan awak Belanda terdiri dari 28 orang yang diborgol dan 4 orang yang tidak diborgol. Mereka semua kemudian ditahan di barak-barak yang dahulunya digunakan untuk karantina haji.3

Dalam surat kabar Sin Tit Po yang terbit di Surabaya, diberitakan sebuah pengumuman yang dikeluarkan oleh Departemen van Marine (Departemen Kelautan) mengenai penurunan pemberontak di Pulau Onrust, sebagai berikut,

Di kapal Orion ada 28 matroos Eropa jang di djaga oleh officieren dan onderofficieren. Ini kapal di toenggoe kedatangannja pada tanggal 11 di Poeloe Onrust pada jam 9 siang. Kapal Zeven Provincien poen menoejoe Poeloe Onrust dan ditoenggoe kedatangannja jam 4 sore.

Java pada hari Sabtoe jang laloe itoe soedah sampe di Poeloe Onrust boeat toeroeni orang-orang tangkepan bangsa Indonesia, sedang Evertsen ini boeat toeroen orang-orang jang mati lantaran kena bom.”4

Setelah kedatangan para tahanan, pemerintah menyatakan bahwa Pulau Onrust kini tertutup untuk umum. Untuk menjaga para tahanan, pemerintah menugaskan 150 tentara dari Batalion ke-11 Mr. Cornelis (kini Jatinegara) di bawah pimpinan Kapten van ‘tRiet. Sedangkan untuk memantau kesehatan para tahanan, ditugaskan satu kesatuan Dinas Kesehatan.

Selain itu, berbagai fasilitas pendukung juga dilengkapi, seperti stasiun radio dan telepon sebagai alat komunikasi. Kebutuhan akan makanan dan minuman juga dicukupi oleh pemerintah yang dipasok dari Jakarta.5

Meskipun demikian, barak-barak yang disediakan untuk tahanan ternyata tidak memenuhi syarat kesehatan. Barak yang terbuat dari tembok setinggi 1 ˝ meter hanya ditutupi dengan atap yang terbuat dari seng. Barak-barak tersebut juga di kelilingi oleh kawat berduri untuk mencegah pelarian narapidana. Bila ada tahanan yang membuat keributan, maka sebuah granat akan dilemparkan tanpa peringatan terlebih dahulu.

Tahanan yang dianggap memiliki kesalahan berat akan terus diborgol. Ada kalanya lima tahanan berjalan berderet dengan di borgol menggunakan satu rantai yang panjang. Kalau ada seorang tahanan yang hendak ke kamar mandi, maka semua kawannya yang sama-sama diborgol harus ikut pula. Kemana saja tahanan pergi, mereka selalu di kawal oleh seorang tentara yang bersenjata lengkap.6 Kondisi tersebut menjadi suatu hal yang lazim terjadi di Pulau Onrust. Pulau Onrust menjadi saksi kerasnya Undang-Undang Militer yang diperlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pada awal September 1933, Pemerintah mengumumkan bahwa para tahanan peristiwa pemberontakan kapal Zeven Provincien akan dipindahkan ke Madura, sebuah pulau yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Akhirnya, setelah tujuh bulan ditahan di Pulau Onrust, para tahanan dibawa dengan Kapal Zuiderkruis menuju Sukalila, Madura. Pada pemberangkatan tanggal 18 September tersebut, Kawilarang dan Boshart tidak ikut serta. Mereka dibawa ke Jakarta terlebih dahulu, dan setelah ditahan dan periksa barulah dikirim ke Sukalila menunggu pengadilan militer untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka sebagai pimpinan pemberontak.

Setelah para tahanan dipindahkan ke Madura, aktivitas manusia di Pulau Onrust kian berkurang. Namun, barak-barak tersebut tetap disiagakan untuk menampung para tahanan Indonesia maupun asing.

Memasuki tahun 1940, kondisi politik di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi global Perang Dunia II.7 Ketika itu, orang-orang Jerman datang ke Indonesia untuk membuka hubungan dengan Pemerintah Hindia Belanda. Namun, hubungan tersebut tidak dapat terealisasikan karena Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler terlebih dahulu menyerang negeri Belanda. Akibatnya, orang-orang Jerman yang berada di seluruh Indonesia ditahan dan dilokalisasikan di Pulau Onrust. Salah satunya adalah Stenfurt, mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust.8

Jadi, selama kurun waktu 1940 hingga 1942, Pulau Onrust digunakan untuk menampung tahanan kebangsaan Jerman. Mereka ditempatkan dalam barak-barak yang dahulu digunakan untuk para tahanan pemberontakan Kapal Zeven Provincien. Sementara itu, di Kelor, Cipir, Bidadari, dan Edam tidak ada aktivitas menonjol yang dilakukan di pulau-pulau tersebut sehingga menjadi terbengkalai.

Periode Pendudukkan Jepang

Memasuki tahun 1942, terjadi perebutan kekuasaan di Indonesia antara Belanda dan Jepang. Jepang yang terlibat dalam Perang Dunia II, menginginkan terbentuknya kekuatan Asia Raya. Oleh karenanya, mereka memasuki Indonesia dari 2 Arah yaitu dari Birma ke Semenanjung Malaya dan Pulau Singapura lalu ke pulau Sumatera kemudian masuk ke pulau Jawa. Mereka adalah Tentara Ke-25 Angkatan darat. Arah lain dari Filiphina lalu Pulau Tarakan Kalimantan Timur lalu ke pulau Jawa oleh Tentara ke-16 Angkatan Laut.

Pendaratan di pulau Jawa dilakukan di 3 tempat yaitu Banten, Eretan dan Tuban. Indonesia yang kaya potensi sumber daya alam terutama Minyak bumi dan karet merupakan wilayah sumber yang efektif untuk menyokong perindustrian perang Jepang. Pada awalnya sejak tahun 1936 Jepang telah mencoba membujuk Hindia Belanda untuk menjual karet dan minyak bumi kepada Jepang, tetapi Hindia Belanda menolak karena Pemerintah Kerajaan Belanda menganggap Jepang sebagai Fasis baru di Asia.

Karena Jepang membutuhkan Minyak bumi dan Karet terutama setelah mereka Menyerbu Pearl Harbour 7 Desember 1941, maka tidak ada pilihan lain adalah mendapatkan minyak bumi dan karet di Hindia Belanda melalui serangan militer. Akhirnya, dengan mengerahkan kekuatan penuh, Jepang berhasil masuk Batavia pada tanggal 5 Maret 1942. dimana kota itu telah ditinggalkan militer Belanda dan para pejabatnya yang mengungsi ke Australia melalui pelabuhan Cilacap. Beberapa hari kemudian Hindia Belanda menyerah tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Di awal pendudukkannya, Jepang mengumumkan berdirinya pemerintah militer di Indonesia. Prioritas utama Jepang terhadap Indonesia adalah menghapuskan pengaruh-pengaruh Belanda dan memobilisasi rakyat untuk kemenangan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Jepang yang ketika itu terlibat dalam Perang Dunia II sangat berambisi menguasai seluruh wilayah Asia Timur. Kebijakan tersebut berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan masyarakat, termasuk fungsi Kepulauan Seribu yang berada di Teluk Jakarta, termasuk Onrust.

Jepang memang kurang memperhitungkan potensial pulau Onrust sebagai pertahanan. Hal tersebut disebabkan oleh berkembangnya teknologi pesawat tempur udara yang diakui lebih efektif dalam menggempur pertahanan musuh. Sedangkan pulau-pulau tersebut hanya berfungsi ketika teknologi masih terbatas pada kapal laut. Fakta tersebut mengakibatkan pulau-pulau tersebut ditinggalkan Jepang hingga akhirnya menjadi terbengkalai. Sementara itu, Pulau Onrust masih tetap digunakan sebagai tempat penampungan para tahanan. Sebagian tahanan Jerman bahkan masih ada disana menunggu untuk dipulangkan.

Memasuki bulan Maret 1945, posisi Jepang dalam Perang Dunia II di Front Pasifik makin melemah, terlebih setelah Jerman menyerah pada bulan Mei 1945. Kondisi tersebut membuat Sekutu dalam hal ini Amerika Serikat lebih leluasa untuk memusatkan kekuatan perangnya di pulau Okinawa yang hampir masuk jantung Tokyo.

Periode Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki digoncang bom atom pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 yang menelan korban hampir 150.000 orang tewas. Dua hari berikutnya, yakni 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan berdirinya negara Republik Indonesia (RI).

Pada tanggal 18 Agustus 1945, melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Sukarno diangkat sebagai Presiden dan Mohamad Hatta sebagai wakil presiden.9 Setelah RI memiliki pemerintahan sendiri, status berbagai daerah ditetapkan, termasuk Kepulauan Seribu yang ditetapkan sebagai bagian dari territorial Kotapraja Jakarta Raya di bawah administrasi Propinsi Jawa barat.

Setelah Indonesia merdeka (1945), Pulau Onrust dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, diantaranya sebagai Rumah Sakit Menular di bawah pengawasan Departemen kesehatan RI (1950-1960), tempat penampungan para gelandangan dan pengemis (1960-1965), dan tempat latihan militer.

Pada tahun 1968, Pulau Onrust yang sudah ditinggalkan penghuninya mengalami penjarahan material bangunan secara besar-besaran oleh masyarakat sekitar. Untuk melindungi pulau ini dari dan kehancuan, maka Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan SK No. 11/2/16/72 yang menetapkan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah yang dilindungi.

Pada tahun 1950, Pulau Onrust digunakan oleh Departemen Kesehatan sebagai Rumah Sakit bagi penderita penyakit menular. Di Pulau Onrust, tempat yang digunakan unuk pasien-pasien tersebut adalah barak-barak yang dahulu digunakan untuk para tahanan.

Namun, pada tahun 1960, seluruh pasien yang dirawat di Pulau Onrust dipindahkan ke Pos VII Pelabuhan Tanjung Priok yang fasilitasnya jauh lebih baik. Setelah tidak digunakan untuk Rumah Sakit, Pulau Onrust dimanfaatkan untuk menampung gelandangan dan pengemis selama kurun waktu 1960-1965.

Selain untuk menampung gelandangan, Pulau Onrust juga dijadikan sebagai tempat latihan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pelatihan tersebut bagian dari upaya strategi merebut Irian Jaya dari kekuasaan Belanda. Sesuai perjanjian KMB (1949), pengakuan Belanda atas Indonesia tidak termasuk Irian Barat.

Belanda dan Indonesia akan membicarakan status wilayah yang berada di belahan timur Indonesia tersebut di kemudian hari. Namun, selama kurun waktu 1950-1960, Belanda justru berusaha mendirikan sebuah negara merdeka di Irian dengan dukungan penduduk setempat.

Pada awal 1960, mereka mengumumkan akan mengadakan pemilihan umum untuk memilih dewan perwakilan. Pernyataan tersebut menyulut kemarahan Indonesia, sehingga pada bulan Agustus 1960, pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda.10

Kondisi tersebut membuat hubungan antara Indonesia dan Belanda kian memanas. Untuk mempersiapkan serangan merebut Irian Jaya, TNI memasok kebutuhan peralatan militer dari Uni Soviet.11 Sebagaian prajurit berlatih menggunakan peralatan tersebut di Pulau Onrust. Pulau tersebut dipilih sebagai tempat latihan TNI karena beberapa faktor. Pertama, kawasan ini tidak berpenduduk. Pemerintah memang mengfungsikan barak-barak di Pulau Onrust untuk menampung gelandangan dan pengemis, tetapi mereka banyak yang melarikan diri bersama kapal-kapal nelayan yang kebetulan singgah. Jadi, tentara dapat mengalihkan barak-barak tersebut untuk menaruh keperluan mereka.

Pulau Onrust merupakan pulau terdekat dari daratan Jakarta yang dijangkau melalui tiga pelabuhan kecil, yakni Marina, Anke, dan Muara Kamal yang dapat ditempuh hanya dalam waktu 15-20 menit. Letaknya yang tidak terlalu jauh memudahkan tentara berkomunikasi dengan panglima di Jakarta. Pelatihan tentara di Pulau Onrust sebenarnya tidak hanya terfokus pada usaha merebut Irian Jaya karena kegiatan militer yang terjadi masih dalam tingkat yang rendah. Kedua belah pihak, Indonesia dan Belanda, sama-sama membuka peluang untuk menyelesaikannya dalam meja perundingan. Atas desakan Amerika dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), perundingan tersebut bisa terlaksana pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York. Hasil perundingan menetapkan bahwa wilayah Irian Jaya masuk dalam kekuasaan RI.

Pada saat dijadikan sebagai tempat latihan tentara, Pulau Onrust pernah digunakan sebagai tempat eksekusi mati seorang pemimpin besar Darul Islam (DI) bernama Raden Sekar Maji Kartosuwiryo. Pada bulan Juni 1962, ia ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah melakukan pemberontakan dan berusaha melakukan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Hasil pengadilan memutuskan bahwa ia diganjar hukuman mati.

Pada tanggal 5 September 1962, Kartosuwiryo dibawa ke Pulau Onrust dengan sebuah kapal pendarat amphibi milik Angkatan Laut. Pada pukul 05.50 WIB, hukuman mati dilaksanakan oleh regu tembak dan disaksikan oleh tujuh Jendral RI.12 Namun, pemerintah tidak memberikan informasi dimana jenazah Kartosuwiryo dikebumikan, apakah di Pulau Onrust atau di tempat lain.

Setelah tahun 1963, Pulau Onrust tidak lagi digunakan sebagai tempat latihan militer, sehingga menjadi terbengkalai. Ketika dimulainya revolusi orde baru, pulau tersebut dalam kondisi terlantar dan dikosongkan, maka memberikan kesan tak bertuan. Oleh karena kondisi tersebut, pada tahun 1968 terjadi pembongkaran dan pembambilan seluruh material bangunan yang ada. Barak-barak dan tempat karantina haji yang dahulu digunakan telah hancur karena pembongkaran yang dilakukan atas izin dari koramil 072 Jakarta Utara tersebut.13

Melihat kondisi tersebut, pemerintah melalui Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta berupaya menyelamatkan sisa peninggalan arkeologi yang tersisa. Dengan SK Gubernur DKI Jakarta tertanggal 14 April 1972 No. cb 11/2/16/1972 Pulau Onrust dinyatakan sebagai pulau bersejarah yang dilindungi.

Kini, Pulau resmi di bawah pengelolaan UPT Taman Arkeologi Onrust Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Pulau Onrust dijadikan sebagai pulau pulau pariwisata sejarah, budaya, arkeologi dan bahari. Pulau Onrust buka tiap hari selama 24 jam. Bagi Anda yang suka berpetualang, memancing, berkemah, dab lain-lain pulau Onrust sangatlah tepat dan cocok untuk menyalurkan hobbi Anda.


Selamat berpetualang!


Penulis

Asep Kambali

 

REFERENSI

Al Chaidar. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosuwirjo. Jakarta : Darul Falah, 1999.

Attahiyat, Chandrian. Pulau Onrust. Jakarta : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, 2003.

Penelitian Arkeologi Pulau Onrust. Jakarta : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, 1993.

Blom, J.C.H. De Muiterij Op De Zeven Provincien. Utrecht: Hes Uitgevers, 1983

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Jakarta Kota Juang, 1998

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Lintasan Sejarah Jakarta, 2004

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Mengenali Reruntuhan Sejarah di Teluk Jakarta. Pemda DKI Juli 2002

Dinas Museum dan Sejarah, Laporan Penggalian Arkeologi Pulau Cipir, 1983.

Dinas Museum dan Sejarah, Penelitian Arkeologi Pulau Onrust. Pemda DKI 1993.

F. De Haan, Oud Batavia Vol 1 dan 2. Bandung: A.C. Nix & Co, 1922.

Heijboer, Pierre. Agresi Militer Belanda. Jakarta : Grasindo, 1998.

Heuken, Adolf, SJ., Historical Sites of Jakarta, 1986

 

Humas dan Protokol Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu tahun Sebaiknya Anda Tahu: Data Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. 2004

Krisprihartini Setiowati, Benteng Onrust : Kajian Benteng Berdasarkan Data Artefaktual Dengan Data Piktorial, (Skripsi Sarjana Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 1999),

Leirissa, RZ. Sunda Kelapa sebagai Jalur Sunda. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Depdikbud, 1995.

Riclefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern, UGM Press, 1998.

Sedyawati, Edy, dkk., Sejarah Kota Jakarta 1950-1980. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1986/1987.

Setyohadi, Tjuk. Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa. Jakarta : CV. Rajawali Corporation, 2002.

 

Suracmat, Dirman. Peningalan Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, Ciloto 23-28 Mei 1983

Tjandrasasmita, Uka. Sejarah Jakarta dari Zaman Prasejarah sampai Batavia Tahun ± 1750. Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta, 2001.

Widodo, M, dkk. Pemberontakan di Atas Kapal HR. MS. De Zeven Provincien. Jakarta: Direktorat Jenderal Bantuan Sosial – Departemen Sosial RI 1980.

Wilard, Hanna, A., Riwayat Jakarta, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1988.

 

“Boentoetnya Pemberontakan Awak Kapal De Zeven Provincien” dalam Sin Tit Po, 13 Februari 1933.

“Boentoetnya Pemberontakan Awak Kapal De Zeven Provincien” dalam Sin Tit Po, 14 Februari 1933.

“Melongok Karantina Haji di Pulau Onrust” dalam Republika, Kamis, 8 Januari 2004.

“Karantina Haji di Pulau Onrust”, (htttp://www.republika.co.id, diakses 17 Juni 2005).

www.ned-indie.org

www.londoh.com


1 M. Widodo, dkk, Pemberontakan di Atas Kapal HR. MS. De Zeven Provincien, (Jakarta: Departemen Sosial RI, 1980), hal. 1-5. Penelitian akademis mengenai peristiwa pemberontakan Kapal Zeven Provincien juga dilakukan oleh J.C.H. Blom, De Muiterij Op De Zeven Provincien, (Utrecht : Hes Uitgevers, 1983). Dalam buku tersebut dipaparkan bahwa Pemberontakan di Kapal Zeven Provincien dipengaruhi oleh Komunisme.

2 M. Widodo, dkk, Op.Cit., hal. 81-83.

3 “Boentoetnya Pemberontakan Awak Kapal De Zeven Provincien” dalam Sin Tit Po, 13 Februari 1933.

4 Ibid.

5 “Boentoetnya Pemberontakan Awak Kapal De Zeven Provincien” dalam Sin Tit Po, 14 Februari 1933.

6 M. Widodo, dkk, Op.Cit., hal. 85.

7 Perang Dunia II (1939-1942) melibatkan dua pihak yang bertikai, yaitu kelompok negara Sekutu yang terdiri dari Inggris, Prancis, Uni Soviet dan Amerika Serikat melawan kelompok negara Fasis yang terdiri dari Jerman, Italia, dan Jepang. Perang tersebut akhirnya dimenangkan oleh kelompok negara Sekutu.

8 www.ned-indie.org


9 M.C. Ricklef, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta : UGM Press, 1998), hal. 314-315.

10 M.C. Ricklefs, Op.Cit., hal. 407.

11 Ibid. Pada bulan Januari 1961, Nasution pergi ke Moskow dan memperoleh pinjaman sebesar 450 juta dolar dalam bentuk persenjataan dari Uni Soviet.

12 Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosuwirjo, (Jakarta : Darul Falah, 1999), hal. 209.

13 Krisprihartini Setiowati, Benteng Onrust : Kajian Benteng Berdasarkan Data Artefaktual Dengan Data Piktorial, (Skripsi Sarjana Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 1999), hal. 25.





Thursday, March 09, 2006
KOMPAS Senin, 06 Maret 2006

75% KOTA TUA RUSAK BERAT
Tak Ada Insentif dari Pemerintah


Jakarta, Kompas - Sekitar 75 persen dari 170-an bangunan cagar budaya dari abad XVI hingga awal abad XX di Kota Tua Jakarta, di sekitar Stasiun Kota, Museum Fatahillah, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, dalam keadaan rusak dan terancam hancur. Dalam pantauan, kemarin, kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan.

Ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) Asep Kambali, yang ditemui di Museum Bank Mandiri seusai penyusuran Jakarta Trail di kawasan Kota Tua, menjelaskan, sejumlah besar bangunan dalam keadaan kritis dan dikhawatirkan segera hancur jika tidak diupayakan perbaikan.

Kebijakan itu harus dibarengi rangsangan menciptakan kegiatan ekonomi di kawasan yang pernah menjadi pusat kota Batavia semasa penjajahan Belanda.

Upaya revitalisasi kawasan belum berjalan dan tidak ditangani serius. Tidak ada insentif pajak bagi pemilik bangunan agar meringankan biaya perawatan. Seharusnya ada penanganan terpadu antarpelbagai dinas terkait di DKI dengan seluruh stakeholder, kata Asep.

Karena tidak ada kegiatan ekonomi, alternatif terakhir adalah
kegiatan hiburan malam saja, yang akhirnya hidup di sejumlah bangunan di kawasan Kota Tua.

Bangunan di kawasan tersebut, lanjut Asep, seharusnya dapat menjadi pusat perekonomian seperti dilakukan di Eropa. Kawasan bersejarah dapat dijadikan wilayah hunian tanpa mengubah bentuk asli dan juga obyek wisata. Sayang peluang tersebut belum dimanfaatkan di Jakarta.

Wilayah tersebut adalah surga bagi bangunan bersejarah. Di Jalan Kali Besar Barat terdapat Toko Merah yang dibangun Gubernur Jenderal Van Imhoff tahun 1730. Pada deretan bangunan di Sebelahnya terdapat bekas gedung Bank Standard Chartered dan HSBC yang digunakan sebelum Perang Dunia II. Bangunan antik lain seperti Museum Fatahillah (bekas stadthuis atau balaikota) dan Museum Wayang bekas gereja juga berusia lebih dari tiga abad.

Riska, aktivis KPSBI, menjelaskan, bangunan bersejarah lain seperti Jembatan Kota Intan yang dibangun sekitar tahun 1628 masih dapat ditemui di kawasan yang sama. Bagian paling tua adalah kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang mulai tumbuh sejak abad ke-6 hingga masa perjanjian Kerajaan Pajajaran dengan Portugis tahun 1500-an.

Revitalisasi pecinan

Direktur Jakarta Old Town Kotaku Ella Ubaidi yang dihubungi mengatakan, upaya revitalisasi Kota Tua sudah mulai dirintis di kawasan pecinan. Memang di sekitar Kali Besar masih belum ada kehidupan. Tetapi di sekitar Pancoran dan Gang Gloria sudah mulai ditata, katanya.

Menurut Ella, mengacu pengalaman di mancanegara, kawasan Kota Tua tidak saja memiliki fungsi komersial, tetapi juga sebagai tempat hunian.

Itu penting agar terdapat aktivitas sosial sepanjang hari sebagai living heritage. Jenis hunian yang ada merupakan perpaduan yang mewakili sebanyak mungkin kelas sosial. (ONG)





Wednesday, March 01, 2006
Telusuri Jejak Orang Islam di jakarta dalam...

jakartatrailTM

KAMPUNG ARAB - PEKOJAN
"Menengok Kampungnya Orang Islam di Batavia"


Hari ini, adalah tiga abad yang silam, kita akan menelusuri jejak-jejak masa lampau Jakarta dengan mengelilingi kawasan Kota Tua Batavia. Silahkan buka dan bebaskan imajinasi serta pemahaman sejarah Anda sebebas-bebasnya ke dalam masa lampau Batavia. JakartaTrail kita kali ini akan memasuki kawasan yang sejak dahulu dikenal dengan sebutan Pekojan.
Perjalanan dimulai dari bekas gedung Stadhuis VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) / Balai Kota VOC tempat kita berkumpul, Stadhuis Plein (kini alun-alun Stadhuis atau Taman Fatahillah), The Groote Kanaal (kini Kali Besar), Gedung Kota bawahJl. Tiang Bendera, Pasar Pagi Mangga Dua, Mesjid Al Anshor, Mesjid Ar Raudhoh, Mesjid Zawiyah, Mesjid An Nawier, Jembatan Kambing, Mesjid Langgar Tinggi kemudian berakhir di Gedong Nederlandsche Handel maatshappij (NHM, kini Museum BANK MANDIRI). Perjalanan kurang lebih sejauh 6 hingga 7 km dan memerlukan waktu kurang lebih 4 jam lamanya. Anda sudah siap? Mari kita mulai…!<BR>

PENGANTAR PEMAHAMAN
Keberadaan agama Islam di Jakarta dapat dilacak dengan pendekatan masuknya orang-orang Islam ke Jakarta yang diperkirakan sejak abad ke-12. Adalah mereka para saudagar muslim yang berasal dari Gujarat, Persia dan Semenanjung Arabia yang menelusuri alur pelayaran dagang sampai ke Cina. Pelabuhan Kalapa Sunda menjadi salah satu pelabuhan skala internasional di lintas pelayaran dagang antara Semenanjung Arabia dengan Cina. Peta pelayaran dagang saudagar Muslim di Blok Asia Tenggara mengalami perubahan sejak jatuhnya Malaka 1511 dan Samudra Pasai 1521 ke tangan Portugis. Semula digunakan jalur antara Arakan – Pattani – Darussalam – Pedir – Samudra Pasai – Malaka – Palembang – Banten – Kalapa – Cirebon- Demak. Kemudian rutenya diubah menjadi Arakan – Pattani – Darussalam – Singkil – Barus – Tiku – Bengkulu – Banten – Kalapa – Cirebon – Demak. Portugis mencoba menggunting jalur ini dengan melakukan kerjasama ekonomi dan pertahanan dengan Adipati Kalapa yang direstui oleh Prabu Sunda Pajajaran Sang Hyang pada tahun 1522. Keadaan ini menggusarkan saudagar muslim. Mereka lalu meminta perlindungan kepada Sultan Trenggono dari Demak. Sultan Trenggono kemudian mengutus Falatehan membicarakannya dengan Sultan Cirebon Syarif Hidayatullah. Disetujui untuk membebaskan Kalapa dari pengaruh Portugis. Maka pada tahun 1527 dilakukan penguasaan atas Banten, lalu penguasaan atas Jayakarta.
Sejak 1527 berkuasalah orang Islam di Jayakarta yang berstatus Adipati dari Kesultanan Banten sampai dengan jatuhnya Jayakarta ke tangan VOC tahun 1619. Kota Jayakarta dimusnahkan VOC. Pengikut setia Jayakarta menyingkir keluar kota; Mereka menempati wilayah seputar Batavia. Di antaranya membangun kekuatan di Jattinegara; di Angke dan di Marunda. Pada tahun 1628 dan 1629 Sultan Agung mengirim pasukan untuk menggempur Batavia namun kurang berhasil. Perlawanan tetap dihidupkan pada tahun 1652 Sultan Abdulfath Abdul Fattah alis Sultan Ageng Tirtayasa kembali menggempur Batavia namun perlawanannya itu berakhir tahun 1682.
Penguasa VOC ternyata harus bisa menerima kehadiran orang-orang Islam di Batavia. VOC sebagai Badan Ekonomi yang mencari keuntungan merasa perlu berhubungan dengan siapapun asalkan tidak merugikannya dan tidak memeranginya. Orang-orang pribumi yang islam diatur dalam perkampungan etnis demikian juga dengan orang islam dari India dan Arab diatur di perkampungan Koja (Pekojan). Orang-orang Islam dibebaskan untuk mendirikan mesjid, para ulamanya dibebaskan untuk memberikan pengajaran. Yang penting jangan memerangi VOC, jangan menghasut untuk membenci VOC.
Dalam pelajaran sejarah kita dikenalkan dengan bukti sejarah yang terdiri atas bukti lisan, bukti tulisan dan bukti benda. Bukti benda yang memperlihatkan eksistensi masyarakat Islam di Jakarta adalah peninggalan Mesjid-mesjid dan Makam para tokoh Islam apakah Ulama atau Penguasa. Bukti tulisan adalah peninggalan berupa naskah-naskah dan laporan tentang keberadaan orang-orang Islam. Bukti lisan adalah cerita-cerita tentang masyarakat Islam di Jakarta dari waktu ke waktu.<BR>

š PELABUHAN SUNDA KALAPA
Pantai Utara Jakarta atau Teluk Jakarta telah dikenal berbagai bangsa di dunia sejak lama. Fa Hien pengelana Cina pada Abad ke-5 M telah mencatat bahwa di bentangan Teluk Jakarta terdapat wilayah kekuasaan yang disebut To-lo-mo (Tarumanegara). Hal ini berarti bahwa bandar itu telah berstatus pelabuhan internasional sejak abad ke-5. Setelah Tarumanegara, kemudian dikenal Pelabuhan Kalapa di bawah kekuasaan Sunda (maka disebut dengan Sunda Kalapa, yang benar semestinya adalah Kalapa Sunda, Pelabuhan Kalapa di bawah Kerajaan Sunda) yang mencuat abad ke-12 dan menjadi terkenal pada awal abad ke-16.
Pada tahun 1522, bangsa Portugis di Malaka menjalin kerjasama perdagangan dan pertahanan dengan penguasa Kalapa Sunda. Namun, di sebelah timur Kerajaan Sunda telah muncul kekuasaan Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon yang juga berminat dengan menguasai Kalapa Sunda tidak menerima dengan perjanjian itu. Singkat cerita, akibatnya pada 1527 diperkirakan tanggal 22 Juni 1527, Pasukan gabungan Demak-Cirebon-Banten di bawah pimpinan Fatahillah menyerang Kalapa Sunda dan berhasil menguasainya. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Jayakarta. Penguasaan Jayakarta berlangsung dari tahun 1527 hingga tahun 1619 yang berakhir ketika orang-orang Belanda di bawah bendera VOC (Verenigde Oost-Indie Compagnie) pimpinan Jan Pieterszon Coen berhasil menaklukan Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia pada 30 Mei 1619. Tidak lama setelah menghancurkan Jayakarta, VOC menggantinya menjadi Batavia, yang berasal dari nama Batavieren. Batavia mula-mula dijadikan pusat pertemuan perdagangan, kemudian juga pusat pemerintahan. Setelah berjaya dalam kurun waktu yang cukup lama, VOC akhirnya mengalamai masa surut, jatuh pailit pada 1798, dan 1799 akhirnya dibubarkan. Sejak itu secara resmi Hindia Belanda diperintah langsung oleh Pemerintah Belanda. Ketika Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda pada Perang Dunia II, awal Maret 1942, nama Batavia dikubur, dan nama Jakarta menggantikannya sampai sekarang.<BR>

š STADHUIS VOC (Museum Sejarah Jakarta)
Sekarang, kita semua berada di gedung yang berumur lebih dari 3 abad lamanya, Stadhuis VOC (kini Museum Sejarah Jakarta di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemprop DKI Jakarta), terletak di Jl. Fatahillah No. 1 Jakarta Barat, dibangun pertama kali tahun 1620 oleh VOC pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterzon Coen. Bangunan yang sekarang ini adalah hasil renovasi di atas bangunan yang lama tahun 1707 pada masa pemerintahan Joan Van Hoorn (lihat prasasti pendirian gedung) yang selesai dan diresmikan pada 1710 oleh Gubernur Jenderal A. Van Riebeck.
Stadhuis selain sebagai kantor Gubernur Jenderal VOC wilayah Asia, juga merupakan kantor Raad Van Justitie (Dewan Pengadilan), Rad Van Indie (Dewan Hindia –Penasehat Guebernur Jenderal), sebagai penjara dan juga sebagai catatan sipil. Pangeran Diponegori, Untung Surapati, dan "playboy" Oey Tambsya pernah "menginap" di penjara bawah tanah gedung ini. Sudah tahu dimana tempatnya?<BR>

š STADHUIS PLEIN (kini alun-alun Stadhuis atau Taman Fatahillah)
Selanjutnya, kita jalan keluar Stadhuis melalui pintu utama menuju Stadhuis Plein atau Taman Fatahillah. Taman ini persis berada di depan Stadhuis, menjorok ke laut, ke arah utara. Stadhuis Plein merupakan tempat berkumpul penduduk kota kala itu untuk menyaksikan berbagai kegiatan, antara lain: hukuman mati/eksekusi para penjahat dan pembangkang terhadap Kumpeni. Tercatat pada 1628, seorang putri keponakan Gubernur Jenderal JP. Coen dihukum cambuk dan kekasihnya di penggal di teras gedung ini, karena tertangkap basah bermesraan di kamar gadis itu, dsb. Di tengah alun-alun terdapat air mancur yang dibangun pada awal abad ke-20 yang dimanfaatkan untuk minum penduduk maupun kuda yang kelelahan. Dahulu, luasnya alun-alun sampai Jalan Cengkeh sekarang.<BR>

š GEDUNG KOTA BAWAH
Dari Stadhuis Plein (Taman Fatahillah) kita menyeberang Jl. Pintu Besar Utara ke arah Barat menuju Kali Besar. Tepat di Jl. Kali Besar Timur depan Gedung PT. Cipta Niaga terletak Gedung Kota Bawah milik seorang Ibu yang akrab dipanggil Ella Ubaidi.
Tidak jelas kapan gedung itu dibangun. Namun dari bentuknya yang terkesan tua, gedung itu dibangun kira-kira pada awal abad 20. Akhir abad 19 dan awal abad 20 merupakan era tumbuhnya liberalisme diberbagai bidang, khususnya perkonomuian di seluruh Eropa yang berimplikasi terhadap Hindia Belanda (kini Indonesia, 17 Agustus 1945). Pada masa itu disekitar Kali Besar merupakan kawasan perekonomian yang ramai karena letaknya di dalam Benteng (Binnenstadt). Banyak didirikan gedung-gedung perkantoran perusahaan pemerintah maupun swasta.<BR>

š THE GROOTE KANAAL (Kali Besar)
Persis di Depan Gedung Kota Bawah, Ketika Belanda berhasil menaklukan Jayakarta kemudian menggantinya menjadi Batavia, Gubernur Jenderal JP. Coen berhasrat membangunnya menyerupai kota-kota seperti di Amsterdam, Belanda. Salah satu pembangunan yang penting adalah membangun kanal-kanal yang berfungsi sebagai sarana transportasi, benteng dan guna mengalirkan air Ciliwung agar tidak terjadi banjir. Kali besar atau The Groote Kanaal, bukan dibuat oleh VOC, tetapi sungai asli yang telah ada sebelumnya. VOC Belanda meluruskannya pada tahun 1630-an. Pada akhir abad ke19 dan awal abad ke-20, kawasan Kali Besar merupakan kawasan yang ramai tempat berlalu-lalangnya kapal-kapal perusahan Belanda. Karena di sekitar Kawasan Kali Besar pada masa itu merupakan kantor-kantor dagang.<BR>

š PASAR PAGI LAMA
Menyusuri kali Besar sebelah kiri, kemudian menyebrang jembatan, pemandangan kita sejenak akan tertuju pada gedung yang dikenal dengan Chartered Bank. Gedung itu kini milik bank terbesar di Indonesia, yaitu BANK MANDIRI. Dahulu gedung itu dibangun sebagai perusahaan Chartered Bank of China, India dan Australia.
Lurus terus dari jembatan menuju Jl. Telepon Kota, kita akan menemukan jalan Tiang Bendera atau dalam bahasa Belanda nya (Malaischeweg). Konon nama jalan Jl. Tiang Bendera itu lantaran di tempat itu tinggal Kapiten Cina. Setiap bulan, saat orang Cina harus membayar pajak, si kapiten dari kediamannya menaikan bendera. Tuga kapiten ini termasuk menagih pajak pada warga yang dipimpinnya.
Dari Jl. Tiang Bendera kita belok kiri dan lurus terus ke arah selatan menyusuri gang menuju Pasar Pagi Lama. Pasar ini menjadi pusat grosir terbesar di Jakarta, bahkan boleh dibilang terbesar se Indonesia. Pasar tersebut selalu ramai dikunjungi orang hingga ribuan menjelang hari raya. Kini pasar itu terkesan tua, tak terawat. Kata Alwi Shahab, pasar itu dipindah sekitar tahun 1980-an ke Mangga Dua sekarang.<BR>

š MESJID AL ANSHOR
Lurus terus ke arah Barat menyeberang kali menuju Jl. Pengukiran II kita akan sampai pada sebuah mesjid yang paling tua yaitu Mesjid Al Anshar atau Mesjid Pengukiran. Jalan ke arah mesjid ini merupakan gang kecil yang hanya bisa di lalui motor. Mesjid itu sendiri terletak diantara rumah-rumah penduduk.
Mesjid Al Anshar didirikan pada tahun 1648 oleh orang-orang Islam yang berasal dari malabar (India) pada waktu VOC sedang berkuasa. Kini kondisi bangunan cukup terawat dan dikelola oleh masyarakat setempat.
Mesjid Al Anshar lebih rendah dari halaman maka pada tahun 1955 mesjid ini ditinggikan oleh masyarakat. Kemudian pada tahun 1973 diadakan renovasi dengan mengganti bagian-bagian yang rusak seperti jendela sisi selatan diganti dengan jendela kaca nako. Selain itu, pada tahun yang sama bangunan ditambah pada bagian depan yaitu ruangan serambi. Tahun 1981/1982, Mesjid Al Anshar dipugar kembali oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala DKI Jakarta.<BR>

š JAMIATUL KHAIR DAN MESJID ROUDAH
Pada awal abad 20, tepatnya pada 1901 di Pekojan berdiri suatu organisasi pendidikan Islam Jamiatul Khair. Organisasi ini dibangun oleh Shahab bersaudara, Ali dan Idrus, serta Syekh Said Basandi. Adanya organisasi ini menimbulkan simpati dari tokoh-tokoh Islam kala it, seperti KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadyah), HOS. Tjokroaminoto (pendidi Syarikat Islam), dan H. Agus Salim. Pada 1903, Jamiatul Khair mengajukan permohonan untuk diakui sebagai sebuah organisasi atau perkumpulan. Tapi baru 1905 permohonan itu dikabulkan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Itu pun dengan syarat boleh membuka cabang di Luar Batavia. Organisasi ini kemudian tersebar ke berbagai daerah, sekalipun dengan nama lain.
Jamiatul Khair juga banyak mendatangkan guru agama dari negara Islam lain. Antara lain Syeikh Ahmad Syurkati, yang kemudian setelah berhenti dari Jamiatul Khair, mendirikan perguruan Islam Al Irsyad. Syurkati juga pernah tinggal di Pekojan.
Tempat berdirinya Jamiatul Khair sekarang ini kira-kira berada di Jl. Pekojan Kecil II. Di sini, masuk gang kecil, terdapat sebuah mesjid yang disebut "Raudah". Di tempat inilah diperkirakan timbulnya ide-ide para pemuda Islam kala itu untuk mendirikan Jamiatul Khair, 7 tahun sebelum beridirnya Budi Utomo.
Jamiatul Khair juga ikut menyebarkan Pan Islam dari Syaid Jamaluddin Al Afghani, Syeikh Muhammad Abduh, dan Syayid Rashid Ridha. Karena organisasi ini punya kaitan dengan organisasi-organisasi Islam di Timur Tengah.<BR>

š MESJID ZAWIYAH
Keluar dari Jl. Pekojan Kecil II, kita menuju Mesjid Zawiah yang tampak bagus dan keker. Mesjid ini dahulunya merupakan sebuah langgar kecil. Alwi Shahab menyebutkan bahwa satu abad yang lalu mesjdi itu didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas yang lahir di Tarim, Hadramaut (kini Yaman Selatan). Mesjid yang dibangunnya itu kemudian diwakafkan hingga kini. Ketika masih mengajar di masjid itu ia menyebarkan kitab "Fathul Mu'in" sebuah kitab kuning yang hingga kini masih dijadikan rujukan di kalangan kaum tradisonal. Beliau adalah guru dari Habib Abdullah Bin Muhsin Alatas, yang kala itu memimpin pengajian di Empang Bogor.
Di samping kanan Mesjid Zawiah, terdapat sebuah rumah tua dengan gaya arsitektur Moor, yang kini ditempati oleh keluarga Aljufri.<BR>

š MESJID AN NAWIER PEKOJAN
Beberapa meter ke arah kanan dari Mesjid Zawiah, masih di Jl. Pekojan, kita akan mnyaksikan Mesjid Jami An Nawier yang merupakan salah satu mesjid terbesar di Jakarta Barat. Mesjid yang dibangun pada 1760 olah ulama yang bernama Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus dari Hadramaut ini, dapat menampung pengunjung sekitar 1000 jemaah. Mesjid ini lebih dikenal dengan sebutan Mesjid Pekojan, ketimbang An Nawier. Di belakang mesjid ini terdapat sebuah makam Syarifah Fatmah binti Husein Alaydrus, yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan "Jide (nenek) kecil". Hingga kini makamnya masih banyak dijiarahi orang dari berbagai daerah di Indonesia.
Mesjid Pekojan telah mengalamai dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilaksanakan pada 1970-1971 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta dengan kegiatan pemasangan porselen pada bagian bawah dinding mesjid, tempat wudhu, dan tiang-tiang yang berada di dalam mesjid. Pelaksanaan pemugaran tahap kedua oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jakarta tanuh 1991/1992. Kegiatannya meliputi pemasangan tegel pada serambi Timur dan Utara, serta pemugaran kolam.<BR>

š JEMBATAN KAMBING DAN KAPITEN ARAB
Beberapa meter tepat di depan Mesjid Pekojan dan diantara tempat tingga yang sebagian sudah berubah fungsi menjadi gudang, terdapat sebuah rumah yang sudah sangat tua. Rumah ini dulunya kediaman Kapiten Arab Syeikh Hammud bin Abdul Aziz. Kini rumah tersebut ditempati oleh generasi ke empat dari keturunan Arab itu.
Di depannya, di atas Kali Angke terdapat Jembatan Kambing. Di kawasan ini anda harus siap-siap menutup hidung karena bau kambing yang menyengat. Dinamakan Jembatan Kambing, karena di kawasan ini dari dahulu ramai sekali dengan jual beli kambing. sebelum dibawa ke Pejagalan, kambing-kambing yang akan dipotong mau tak mau harus menyeberangi Kali Angke dan melewati Jembatan itu. nama Pejagalan hingga kini masih menjadi nama jalan di dekat Pekojan. Di muka Jemabatan Kambing, hingga kini masih dijumpai sejumlah warga keturunan Arab yang menjual daging kambing. menurut seorang penduduk setempat, para pedagang kambing ini sudah turun-temurun. Ketika penduduk masih didominasi keturunana Arab, mereka umumnya senang daging kambing.<BR>

š MESJID LANGGAR TINGGI
Kurang lebih 100 meter ke arah Timur, kita akan menemukan mesjid berlantai dua, yaitu Mesjid Langgar Tinggi. Mesjid yang dibangun 1829 itu dinamakan demikian karena berlantai dua. Dahulu mesjid ini menyatu dengan Kali Angke, hingga para pedagang dan tukang perahu dapat langsung mengambil wudhu di kali Angke ini. Mesjid ini dibangun oleh seorang kapiten Arab, Syeikh Said naum. Sebelum tinggal di Pekojan, ia tinggal di Palembang, memiliki sejumlah Armada kapal dan menjadi tuan tanah. Banyak tanahnya itu yang diwakapkan untuk mesjid di Batavia.
Said Naum memberikan bantuan untuk perbaikan dan perluasan Mesjid Langgar Tinggi pada November 1833. Kala itu di mesjid ini tiap Kamis malam diadakan pembacaan maulid Nabi, dan tiap Senin malam pembacaan burdah diiringi rebana. Tiap malam 29 Ramadhan diadakan malam khatam Al Qur'an seperti kebiasaan di Kota Tarim, hadramaut. <BR>

š GEDONG FACTORIJ NEDERLANDSCHE HANDEL MAATSHAPPIJ
(Museum Bank Mandiri)
Gedung ini terletak di Jl. Lapangan Stasion KA Jakarta Kota menempati sebuah bangunan dengan luas 10.039 m2 . Bangunan itau dirancang oleh J.J.J. de Bruijn dan C. van der Linde. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1929 dan diresmikan tanggal 14 januari 1933 oleh C.J. Karel van Aalst, presiden Nederlandsche Handel Maatshappij (NHM) ke-10 , sebagai gedung Factorij NHM di Batavia.
Gedung Museum Bank Mandiri dilindungi sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Luas bangunan Museum Bank Mandiri yaitu 21.509 m2 dengan arsitektur Indisch bergaya Nieuw Zakelijk atau Art Deco Klasik.

Semoga kita mendapatkan kearifan setelah belajar dari acara wisata sejarah kampung tua kali ini. Salam, Historia Vitae Magistra. ***

Penulis:
         Asep Kambali







Cinta Indonesia? Gabung Historia ajah!

KOMUNITAS HISTORIA-INDONESIA atau Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia hadir sejak 2002, merupakan lembaga nonprofit independen dibindang sejarah, budaya pendidikan dan pariwisata. HISTORIA mempunyai visi&misi untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia melalui kegiatan yang rekreatif-edukatif dan entertainment. Beranggotakan ribuan pelajar/mahasiswa, eksekutif muda, ibu rumah tangga, kelompok ekspatriat, pemerhati sejarah&budaya, akademisi serta masyarakat luas, yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri. TUJUAN -Membangun kesadaran sejarah dan budaya, dan nasionalisme. lihat selengkapnya...

CONTACT US:
Phone: (021) 7044-7220,
komunitashistoria@yahoogroups.com,

DAFTAR JADI MEMBER
Komunitas Historia terbuka untuk umum, bagi siapapun dan tanpa membedakan Suku, Agama dan Ras. Anggota boleh berasal dari dalam maupun luar negeri.
Buruan gabung di KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA! Nikmati serunya petualangan Sejarah dan Budaya bersama kami
Powered by groups.yahoo.com

RUANG DISKUSI HISTORIA

   





<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA
Komunitas Peduli Sejarah & Budaya Indonesia


"We learn history for learning the present and building the future."

LINKS
Mailig List Komunitas HISTORIA
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia [BPPI]
Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia

Bandung Trail
KITLV Belanda
Arsitektur Indis
Situs Sejarah Indonesia dari Prasejarah hingga Reformasi
Situs Jalan-Jalan di Singapura
Millist Kota Tua Jakarta


"Adalah benar bahwa hari ini diwarnai oleh masa lalu. Dengan belajar dari sejarah kita akan dapat memilih warna masa depan sesuai dengan selera kita."
komunitashistoria@yahoogroups.com





Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed