 |
|
Saturday, April 22, 2006
Membangkitkan Gairah Bersejarah
Pertama: Cermin Generasi Muda Kita Mungkin gak ya, pada saat sekarang ini ada anak sekolah dasar (SD) yang gak kenal sama mall, internet (bukan indomie telor kornet lho…), chating, browsing, surfing, play stations (PS)….? Kayanya gak mungkin deh…. Semua anak SD sekarang ini udah lebih maju dan hebat - hebat. Semua Fasilitas ini dapat kita temui di setiap sudut kota, baik punya pribadi atau pun nyewa, pokoknya anak SD sekarang udah jadi modern…. Canggih …. Techno freak…. Technocrat kali yee…. Wong yang kaya gitu banyak banget,ada di mana - mana kaya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Padang, Medan, Bali wah banyak lagi deh… Apa lagi nih, anak - anak sekarang merupakan generasi instant mulai dari mie instant sampai jaringan internet pun ikut - ikutan pake kata instant ….gila mau jadi apa yah….?
Mereka kayanya sudah gak mau susah - susah lagi, perut laper tinggal ke Mc D aja, or Pizza Hut, and other fast food lah…. Coba Tanya mereka pernah makan atau kenal ga sama yang namanya karedok, gudeg,kue pancong? Kue surabi, apa kenal juga sama colenak….? Ntar dulu dalam hal fashion. Mereka juga gak mau ketinggalan frend, coba liat di mall - mall ada gaya Agnes Mo Nikah ….(Ups Monica), Britney Spears…. Jhon Lenon (ah yang ini mah gaya oma- oma gue men, jadul abizz...) hebat gak??? Gimana nasib batik, baju lurik, ulos, dan kebaya…?
Okey sekarang kita lihat mereka ngapain sih kalo pulang sekolah. Ada warnet buat maen online game, kaya "CS" (tau ga CS?) or ragnarok yang lagi menjamur, di rumah maen PS? (masa yang ini juga ga tau?) Emmhhh… coba deh Tanya dan ajak mereka untuk main dampu, maen karet, galasin, tok lele, getrik, bentengan, atau he…he…he… maen kotor - kotoran" nah lho…. Gimana donk??? Untung ada frase bagus salah satu iklan di televisi yang mengingatkan pentingnya kotor- kotoran dalam proses belajar "kalo ga kotor, ya gak belajar!!!" Eh nanti dulu ternyata masih ada lagi, Anak sekarang pasti tau salsa donk…. Kalo break dance? Sekarang apa mereka tahu soal Tari Piringnya orang Minang…. Ia galigo, jaipong, atau tari Topeng Betawi dengan gambang kromongnya…? Jangan - jangan mereka taunya cuman Wade Robson Project di MTV, tari tanggo, dugem, wah gawat neh…
Mau di bawa ke mana Indonesia yang kaya akan budaya dan sejarah besar bangsa ini oleh generasi muda kita yang seperti itu. Generasi tanpa kesadaran akan pentingnya budaya dan sejarah masa lalu demi masa kini dan masa yang akan datang.
Itulah potret generasi muda kita (Sagita 2004) jujur, tidak sedikit di antara kita pun sebagai orang tua mengerti dan memahami mereka. Pendidikan
Sejarah dan Museum Hari ini tidak akan ada tanpa hari kemarin, dan esok tidak akan hadir tanpa melalui hari ini, Begitulah sejarah tak pernah usai dan tak berujung sepanjang hidup manusia. Sejarah tanpa manusia adalah bohong dan manusia tanpa sejarah adalah kemustahilan. Karena itulah sejarah selalu membahas kehidupan manusia dimanapun ia berada. Ungkapan diatas menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya mempelajari masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa yang akan datang. Masa lalu merupakan sesuatu yang penting untuk diketahui dan dipahami agar apa yang telah terjadi dimasa lalu bisa dijadikan pelajaran dalam menapaki hari ini dan melangkah menuju masa depan. Demikian seperti ungkapan "We learn history for learning the present and building the future." (kambali, 2005).
Generasi masa kini harus mampu memahami dan belajar dari pengalaman sejarah. Dengan memahami pentingnya belajar dari pengalaman sejarah, diharapkan pijakan untuk membangun masa kini dan masa depan menjadi terarah. Pijakan dalam membangun masa depan melalui masa lalu bukan saja untuk kepentingan masa kini dan masa depan (kuntowidjojo, 1997)
Berdasarkan pemahaman di atas, pendidikan sejarah sangat penting diberikan kepada generasi muda dalam rangka membangun pemahaman siswa yang berspektif waktu dan memori bersama (KBK 2004). Melalui pendidikan sejarah diharapkan siswa dapat mempertajam wawasan kebangsaan baik ke luar maupun ke dalam kesatuan sosial mereka. Hal ini penting dalam rangka memperkuat dorongan kebersamaan untuk mencapai cita - cita bangsa setelah belajar dari pengalaman masa lalu (Ayatrohaedi, 1985) Oleh karena itu kesadaran sebagai satu bangsa perlu di bina terhadap generasi muda agar jiwa patriotisme dan nasionalisme mereka dapat tumbuh sebagai modal pembangunan dalam mengisi kemerdekaan.
Kompetensi pendidikan sejarah diberikan kepada siswa bertujuan untuk memperoleh kemampuan berfikir historis dan kesadaran sejarah, Melalui pendidikan sejarah di sekolah, diharapkan siswa mampu memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat dalam rangka menumbuhkan jati diri bangsa Indonesia.
Salah satu media pembelajaran dalam pendidikan sejarah yang terpenting adalah museum. Melalui museum diharapkan pendidikan sejarah dalam kerangka menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda dapat tercapai. Karena museum diharapkan pendidikan sejarah dalam rangka menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda dapat tercapai. Karena museum merupakan jendela dunia yang mampu membuka mata kita terhadap sejarah kehidupan bangsa (Kreasi Maret 2005) Melalui museum kita bisa mengetahui bagaimana perjalanan panjang dari bangsa kita, yaitu Indonesia.
Keberadaan museum sebagai lembaga yang menyimpan, memelihara dan memamerkan benda - benda warisan budaya yang bernilai sejarah saat ini masih bisa dikatakan hidup segan mati tak mau. Kenapa tidak, keberadaan museum tidak berbeda jauh dengan sebuah monument yang dibangun dengan makna dan nilai kejuangan yang terkandung di dalamnya seolah pudar di mata masyarakat (Hermawan, 2004). Dewasa ini, masyarakat masih memandang keberadaan museum sebagai tempat yang membosankan. "Hare geneh ngomongin museum, emang gak ada topik lain apa? Nggak ah, bosen gueh, gak asyik, gak gaul, nge - Be Te - In, jadul banget, kotor, kumuh, wuiih syureeem dech. "Kalau toh banyak pelajar atau mahasiswa berkunjung, boleh jadi itu karena tugas atau program dari sekolah (Media Indonesia, 8 Mei 2005). Boro - boro bisa menikmati kunjungan, membuat laporan atau paper telah mencekik mereka dahulu karena harus dibuat setelah acara kunjungan.
Anggapan tersebut memang tidak salah tetapi juga tidak 100 persen benar. Karena itu tidak heran jika museum penuh sesak oleh para pelajar dari berbagai daerah saat musim liburan tiba. Terutama museum - museum yang berhubungan dengan materi pelajaran di sekolah. Padahal keberadaan museum tidak dikhususkan bagi para pelajar mahasiswa atau peneliti saja. Namun untuk semua orang dari berbagai kalangan tanpa membedakan status pendidikan, agama, ras bahkan status sosial ekonomi. Karena keberadaannya tidak hanya diperuntukan bagi salah satu kelompok masyarakat, maka dalam memberdayakan museum, semua kalangan yang ada di masyarakat perlu dilibatkan. Keberadaannya tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola atau kurator museum semata, tetapi masyarakat luas.
Peran Pengelola Museum Pengelola musem telah rela bercucuran keringat dan berusaha semaksimal dalam upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap keberadaan museum. Tak pelak juga beban berat yang dipikul mereka ketika harus berdiri di ganda paling depan terhadap baik buruknya museum. Mereka dituntut harus terus berusaha menata museumnya agar mampu di "jual" kepada masyarakat. Hal ini tak sebanding dengan minimnya anggaran yang diterima dengan mahalnya biaya perawatan dan pemeliharaan karena museum kebanyakan memiliki kondisi bangunan dan koleksinya yang rentan dimakan usia.
Bukan hal yang mudah menjadikan museum agar dapat diminati dan dikunjungi masyarakat. Hal ini terkait dengan bagaimana packaging - nya?Di luar negeri, museum menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi liburan atau sekedar weekend - an sambil refreshing. Sampai - sampai kalau mau masuk museum harus ngantri beberapa saat. Berbeda dengan di Negeri kita yang ngantri itu kebanyakan di Mall, pas beli tiket teater 2.1, di jalan raya alias macet, di halte busway, ditambah lagi antri BBM (nah yang ini ngantri, Aneh yah… Kenapa di museum kita enggak?
Sulit kalau harus membandingkan dengan museum yang berada di belahan benua lain. Pengelolaan yang profesional, menjadikan tempat peninggalan masa lalu di negara itu menjadi salah satu objek tujuan wisata (OTW) alternative, Misalnya The Metropolitan Museum of art di New York Amerika Serikat. Museum yang juga dikenal dengan nama "The Met" ini memiliki berbagai variasi program yang dirancang berbeda untuk berbagai kalangan. Ada Famili Program. Student Program Teacher Program, konser, film, sampai ke acara "serius" seperti seminar atau lokakarya. Di Negara lain semisal Inggris, terdapat Town Square yang merekonstruksikan kota kecil sehingga anak - anak yang berkunjung dapat mengamati kehidupan sehari - hari dan mencoba pekerjaan orang dewasa.
Tak kalah menarik di Amsterdam Belanda misalnya, terdapat Tropenmuseum junior yang sama sekali tidak memiliki artefak - artefak untuk dipamerkan. "koleksi" museum ini adalah tarian, nyanyian, permainan dan cerita tradisional dari berbagai belahan dunia yang dipamerkan lewat peragaan langsung yang melibatkan pengunjung anak - anak di era sekarang. Kehidupan yang semakin padat dan penat menyebabkan masyarakat memburu tempat - tempat yang dinilai mudah, praktis, dan hemat dalam mengisi waktu luangnya untuk liburan. Nah,agar museum menjadi cantik sehingga menarik hati masyarakat, seyogyanya museum kita segera membenahi diri.
Seperti beberapa saran berikut: Sudah saatnya museum dilengkapi dengan taman bermain (play ground). Dengan tempat ini, anak - anak akan betah di museum bahkan esok atau lusa mereka pasti akan meminta lagi kepada orang tua untuk berkunjung ke museum. Lengkapi juga museum dengan pepohonan yang rindang karena hal ini akan menjadikan suasana sejuk dan menggairahkan. Tanpa merusak bangunan yang ada, tak lupa sediakan perpustakaan, ruang orientasi, audiovisual, dan ruang serbaguna sebagai sarana edukasi dan penelitian. Sarana penunjang lain seperti toilet, jangan disepelekan karena akibatnya akan fatal. Cafeteria, wartel, warnet, rest room, dan souvenir shop, (bila perlu dilengkapi semacam toko serba ada) akan semakin membuat pengunjung betah dan nyaman tinggal berlama - lama dimuseum. Yakni masyarakat tidak akan bosan, dan besok atau masyarakat akan berkunjung ke museum terus.
Beberapa ruangan juga perlu dilengkapi dengan AC. Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah penataan koleksi yang menarik, agar tidak terkesan menumpuk, dan kaku. Pencahayaan yang sesuai agar koleksi menjadi hidup dan enak dipandang, tidak kumuh dan tidak menyeramkan. Labeling yang lengkap menjadikan koleksi bernilai dan mempunyai makna, jadi hidup gitu loch.Dalam rangka mengikuti laju perkembangan teknologi dan globalisasi, sudah seharusnya museum berbasiskan Information Technology (IT) yaitu dengan melengkapi museum dengan web.site, cd iteraktif dan atau semacam cyber museum. Dengan itu nantinya diharapkan seluruh rakyat Indonesia di mana pun mereka berada bisa "mengunjungi" museum sesuka hatinnya. Mereka akan dapat melihat isi koleksi, mencari sumber referensi penelitian sejarah, memenuhi tugas sekolah dan kuliah, bahkan berkomunikasi langsung dengan kurator atau pegawai museum.
Yang terpenting, pengelola museum harus pintar - pintar membuat dan mengemas berbagai bentuk kegiatan yang kreatif dan menghibur, semisal wisata museum, workshop, festival, lomba menulis, lomba menggambar, family gathering at museum, nonton film di museum dan segudang kegiatan yang sifatnya having fun with museum. Dengan begitu, selain menghibur, museum terbukti mampu mendidik masyarakat sesuai tujuan dibentuknya museum, yaitu rekreasi dan edukasi.
Peran praktis pendidikan Pertama kali mengenal museum, kebanyakan dari kita, tentunya melalui guru sejarah di sekolah. Memang, selain oleh para pengelola museum sendiri, hingga kini, keberadaan museum banyak disosialisasikan kepada masyarakat oleh kalangan praktisi pendidikan di sekolah (guru). Salah satunya adalah berkunjung ke museum. Hal ini terungkap dari penelitian terhadap pengunjung museum dan pelajar di kota Bandung yang menunjukkan, sebagian besar pelajar datang untuk pertama kali ke museum karena diajak atau ditugaskan oleh guru di sekolah (Hermawan, 2002). Dengan kata lain, guru sejarahlah yang "melakonkan" museum agar museum beserta isinya menjadi menarik dan lebih "Hidup" Oleh gurulah museum diperkenalkan keberadaannya kepada masyarakat serta berbagai manfaat positif yang bisa diperoleh dengan mengunjungi. Melihat peran serta guru yang begitu besar dalam memperkenalkan keberadaan museum kepada masyarakat, diperlukan suatu kerja sama yang saling menguntungkan antara pengelola museum dengan guru. Terutama dalam penyelenggaraan program pendidikan yang dilakukan oleh museum. Lebih kongretnya, dilakukan kerjasama antara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah DKI Jakarta dengan pengelola museum atau Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dalam setiap aktivitas membangun kecintaan generasi muda terhadap museum.
Dengan begitu, siswa bisa memperoleh hasil belajar yang maksimal, seperti yang diharapkan. Selain itu setelah kunjungan pertama karena mengerjakan tugas, siswa diharapkan bisa kembali berkunjung karena kesadaran sendiri. Agar pada diri siswa tumbuh suatu kesadaran untuk tetap mau berkunjung ke museum walau tidak mengerjakan tugas, guru perlu terus membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang sejarah masa lalu bangsanya. Mudah - mudahan dengan begitu dari sekian banyak generasi muda ada beberapa orang yang menjadi guru sejarah dan atau pegawai museum, amin.
Peran Perguruan Tinggi Keguruan Selaku lembaga yang mencetak calon - calon guru, Perguruan Tinggi Keguruan (PTK) semisal Universitas Pendidikan Indonesia (LIPI) dan Universitas Negeri Jakarta (UNI), Eks. IKIP Jakarta) mempunyai peran yang tidak kecil dalam memasyarakatkan keberadaan museum sehingga menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran. PTK perlu memperkenalkan keberadaan museum kepada museum mahasiswa agar mereka memperoleh wawasan dan pengetahuan bagaimana memanfaatkan museum sebagai sumber belajar secara tepat dan benar.
Hal ini diperlukan karena para mahasiswa PTK merupakan calon yang berdiri di garda paling depan dalam dunia pendidikan. Pengenalan pemanfaatan museum sebagai sumber belajar yang tepat kepada mahasiswa PTK sebenarnya dapat dilakukan melalui kerjasama antara PTK dengan pengelola museum. Hal ini telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dengan UNJ dalam berbagai kegiatan pengenalan museum.
Peran serta Masyarakat dan Stakeholder Selain sebagai tempat belajar bagi para pelajar, mahasiswa atau para peneliti, museum juga merupakan tempat bagi masyarakat luas dalam menikmati berbagai peninggalan sejarah masa lalu. Kelompok ini datang ke museum dengan tujuan utama berekreasi atau liburan dengan biaya yang relatif murah. Mereka juga bisa memuaskan rasa ingin tahunya akan hal - hal yang baru.
Sajian pameran yang unik menarik dan menghibur sangatlah diperlukan. Keterlibatan masyarakat dalam memberdayakan museum sangat diperlukan. Dalam mengisi liburan, orang tua perlu mengajak anak -anak mereka berkunjung kemuseum dengan tujuan rekreasi dan memperkenalkan sejarah budaya bangsanya sejak dini, bukan hanya berwisata ke objek wisata atau mal. Melalui aktivitas itu. diharapkan liburan mereka menjadi lebih berkesan dan bermakna.
Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam memberdayakan museum pihak pengelola museum perlu melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Misalnya, pameran kudus dengan tema -tema yang menarik dan sedang trend di masyarakat atau kegiatan lainnya yang dikemas dalam suatu paket wisata museum yang menarik.
Selain itu berbagai kelompok dalam memberdayakan museum dapat pula diakomodir melalui pembentukan suatu paguyuban atau kumpulan orang- orang dari berbagai kalangan yang mempunyai perhatian dan kepedulian terhadap keberadaan museum, diharapkan museum yang ada saat ini dan yang akan dibangun tidak hanya menjadi simbol atau monument sebuah kota yang selalu sepi dari pengunjung. Namun menjadi suatu tempat kebanggan warga kota yang selalu dipenuhi oleh pengunjung yang datang untuk belajar dan wisata.
Kemudian, rangkul stakeholder - stakeholder yang ada dalam masyarakat untuk dijadikan mitra dalam mensosialisasikan setiap program kegiatan bahkan kebijakan. Hal ini menyebabkan setiap program yang diadakan terasa basi dan itu - itu saja. Kita harus cari tahu dan berikan apa saja yang dibutuhkan masyarakat bukan mencari tahu apa yang harus dilakukan agar program terlaksana saja. Karena masyarakat akan lebih tahu apa yang akan dibutuhkannya ketimbang kita yang setiap harinya duduk di kursi pergi pulang sore. Caranya? Yah buat apa ada stakeholder itu?. Libatkan dalam setiap gerak dan kegiatan pemerintah. Dan bila perlu fasilitasi secara maksimal. Lakukan sharing akan setiap program dan jangan segan- segan untuk meminta bantuan kerjasama dalam melaksanakan dan mensosialisasikan program - program itu. Buat data base stakeholder - stakeholder yang ada jaga dan terus kembangkan komunikasi.
Dibantu masyarakat (stakeholder itu) pemerintah DKI Jakarta, segera adakan survey tentang kondisi masyarakat sekarang, Bagaimana harapan dan pandangan mereka terhadap museum, pendapat dan keinginan mereka terhadap museum. Hal ini perlu dilakukan sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil kebijakan itu diperuntukan untuk masyarakat sendiri.
Penutup Memperhatikan museum sebagai titik kajian yang begitu rupa seperti tergambar di atas, hendaknya museum segera membenahi diri dengan dibantu secara bersama oleh segenap masyarakat. Dalam pendidikan sejarah, museum perlu disosialisasikan kepada generasi muda dengan berbagai bentuk dan metode pembelajaran.
Program - program kegiatan seperti Wisata Sejarah dan Budaya yang diadakan KPSBI - HISTORIA; Wisata Kampung Tua dan wisata malam Museum Sejarah Jakarta; Wisata Bahari dan Jelajah Malam Museum Bahari; Workshop dan lomba membuat keramik di Museum Seni Rupa dan Keramik; Lomba membatik di Museum Tekstil; Telusur Malam di Museum Bank Mandiri; dan berbagai aktivitas lain yang diselenggarakan di seluruh museum yang berjumlah kurang lebih 60 buah di DKI Jakarta pada prinsipnya telah mencerminkan bahwa upaya memperkenalkan museum telah dilakukan dari dulu dan terbukti berhasil. Namun demikian, upaya itu harus terus digalakkan dan ditingkatkan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat dalam upaya pembentukan karakter bangsa guna memperkokoh integritas nasional.
Mengunjungi museum - museum sebagai tempat bersejarah bukan saja sebagai sarana rekreasi tetapi juga bermuatan edukasi. Hal lain yang tak diduga adalah menjadi sumber inspirasi. Sejauh mana kita dapat memperoleh inspirasi dari pengalaman belajar sejarah untuk dijadikan pandangan dimana kini dan masa yang akan datang
"Adalah benar bahwa hari ini diwarnai masa lalu, Dengan belajar sejarah kita akan dapat memilih warna masa depan sesuai dengan selera kita"
Oleh: Asep kambali.
__________________________________________________________________
|
|
|
 |
 |
|  |
 |
Cinta Indonesia? Gabung Historia ajah!
KOMUNITAS HISTORIA-INDONESIA atau Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia hadir sejak 2002, merupakan lembaga nonprofit independen dibindang sejarah, budaya pendidikan dan pariwisata. HISTORIA mempunyai visi&misi untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia melalui kegiatan yang rekreatif-edukatif dan entertainment. Beranggotakan ribuan pelajar/mahasiswa, eksekutif muda, ibu rumah tangga, kelompok ekspatriat, pemerhati sejarah&budaya, akademisi serta masyarakat luas, yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri. TUJUAN -Membangun kesadaran sejarah dan budaya, dan nasionalisme.
lihat selengkapnya...
CONTACT US:
Phone: (021) 7044-7220,
komunitashistoria@yahoogroups.com,
DAFTAR JADI MEMBER
Komunitas Historia terbuka untuk umum, bagi siapapun dan tanpa membedakan Suku, Agama dan Ras. Anggota boleh berasal dari dalam maupun luar negeri.
RUANG DISKUSI HISTORIA
|
 |
 |
|  |
 |
 |
|
|
 |